Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Addicted




Kedatangan pertama. Gadis itu menatap botol-botol parfum yang berjajar rapi di hadapannya. Jari-jemarinya yang panjang meraih salah satu botol parfum yang terletak di rak paling atas.

Disemprotkannya parfum itu di tangan. Lalu, Ia menarik napas dalam-dalam. Memaksa semua aroma parfum itu masuk ke dalam sistem pernapasannya. Ia memajamkan mata, menikmati wangi yang dipancarkan parfum itu. Blackcurrant, plum, fressia. Ah, aroma favoritnya.

Sudahlah, sepertinya cukup untuk hari ini.



Kedatangan kedua. Nyalinya belum cukup. Gadis itu hanya menyemprotkan parfum, lalu menyesap dalam-dalam aroma wanginya. Sama persis seperti kedatangan pertama.

Bagai sebuah marijuana, aroma parfum itu membuat gadis bernama Aleena itu merasa candu. Ingin menghirup wanginya. Lagi, lagi, dan lagi.

Ketika kedatangan—entah sudah kedatangan ke berapa, Aleena tidak pernah menghitungnya lagi—Ia mulai memiliki cukup keberanian. Ia mengambil salah satu botol itu. Ya, botol yang isinya membuat candu. Candu yang membawanya ke balik jeruji besi.

Aku, Ponsel, dan Damian



Jika kau berpikir bahwa memiliki kakak laki-laki adalah sebuah anugrah, kau salah besar! Mari kuulangi. SA-LAH BE-SAR. Jadi, bagi kau yang tidak mempunyai kakak laki-laki, bersyukurlah. Karena kau tidak akan mengalami hal seper—

“Cloe, bisakah kau membuatkanku secangkir kopi? Aku harus lembur malam ini.”

Tuh, kan.

Hal seperti itu sudah kualami selama bertahun-tahun, dan sungguh itu memuakkan. Lebih-lebih, saat Kakakku mengeluhkan soal ponselnya yang rusak. Dia bolak-balik mengeluh soal ponselnya, sampai kupingku panas mendengarnya.

“CLOEEE, BI—“

“Aku sedang berjalan, berisik.”

Penyiksaanku semakin menjadi-jadi sejak ponselnya rusak. Karena ponselnya rusak, ia memutuskan untuk kerja sambilan dan aku menjadi korbannya. Iya, iya aku tahu ini memang tidak masuk akal. Tapi bagi seorang Damian, itu adalah hal yang masuk akal.

Hm, sebentar ya. Akan kulanjutkan setelah membuat kopi. Karena jika aku tidak bergegegas, Damian akan mengamuk. Dia akan memaksaku untuk memberikan setengah uang saku padanya, atau membiarkanku berpergian dengan kendaraan umum.
***
“Ini kopimu,” aku meletakkan secangkir kopi setelah membuatnya dengan asal-asalan.
“Hmm,” jawabnya sambil tetap memandang kertas-kertas yang berserakan di atas meja.
Ha. Tidak bisakah dia mengucapkan sesuatu? Setidaknya sebuah terimakasih? Ah, tidak mungkin seorang Damian akan mengucapkan terimakasih. Akan menjadi keajaiban ke-delapan jika dia melakukan itu padaku. Iya, padaku.

Asal kau tahu saja ya, sikapnya itu seratus persen berbeda jika denganku. Di depan orang lain, sih sangat baik. Tapi jika dengan adiknya sendiri? Dia bahkan hampir sama kejamnya dengan ibu tiri. Kau mau mengataiku lebay? Terserah. Aku tak peduli. Toh, memang begitu kenyataannya.
Ah iya, aku jadi lupa menceritakan perihal insiden ponsel.

Jadi begini, ponsel Damian jatuh. Layarnya pecah. Lalu, dia berniat untuk mengganti ponselnya. Dia mengeluh terus menerus bahwa ponselnya tidak bisa digunakan lagi. Padahal aku paham betul, itu cuma retak sedikit. Tidak banyak. Paling-paling, tidak membuang uang banyak jika berganti layar.
Tetap saja. Damian keras kepala. Sudah kukatakan berulang kali untuk hanya mengganti layar, tapi ia tetep ngeyel. Ia terus-terusan mengeluh, sengaja. Agar ibu ataupun ayah mau memberikan dia ponsel baru.

Tapi sayangnya, itu tidak terjadi. Orang tuaku bukanlah orang tua yang sangat baik hati apalagi memberikan ponsel secara cuma-cuma. Jangan harap. Aku saja tidak menggunakan ponsel selama hampir setengah tahun.

Aku disuruh menabung. Tapi setiap menabung, uangnya selalu terpakai untuk membeli sesuatu lagi. Begitu terus berulang-ulang.

Tunggu, ini kenapa jadi menceritakan ponselku sih?

Baiklah, mari dilanjutkan.

Singkat cerita, Damian memutuskan kerja paruh waktu untuk mendapat uang demi membeli ponsel. Itu terjadi dua bulan yang lalu. Menyebabkan seorang Damian sangat sibuk, sampai-sampai melewatkan tanggung jawabnya untuk menjemputku.

Uang sakuku yang seharusnya bisa kutabung, justru dengan amat sangat terpaksa kugunakan untuk membayar kendaraan umum. Mengakibatkan aku tidak bisa menabung untuk membeli ponsel. Sial.
Bukan hanya itu saja, Damian juga hampir selalu mengatakan ‘Cloe, bisakah kau bla bla bla’ sebanyak lima kali sehari. Aku sudah berusaha untuk tidak menghiraukan permintaannya. Tapi lagi-lagi, dia mengancam untuk tidak mengantar atau menjemputku. Yah, begitulah. Jadi aku dengan sangat amat terpaksa harus menuuti keinginannya.

“Cloe?”

Astaga, apalagi sih? Padahal aku baru saja membuatkannya kopi.

“Kopinya kok asin?”

“Hah?”

Aku buru-buru merebut cangkir yang saat ini dipegang oleh Damian, dan mencicipi kopi buatanku sendiri. Ah, benar saja. Rasanya asin. Sepertinya aku salah memasukkan. Harusnya gula, justru aku beri garam. Beginilah hasilnya jika sesuatu dikerjakan dengan cara terpaksa.

“Tunggu apalagi? Buatkan yang baru, Cloe?”

Aku melotot.

“Masa kau tega membiarkan kakakmu ini meminum kopi asin?”

“Oke, baiklah.”

Aku kembali ke dapur untuk membuatkan kopi yang baru.
***

Keadaan di sekolah sudah membuat moodku baik. Tapi saat pulang, Damian menghancurkannya. Kau tahu kenapa? Akan kuceritakan.

Jadi begini, aku sudah menunggu selama satu jam lamanya, dan dia tidak kunjung datang. Seharusnya jika dia tidak bisa menjemputku, dia bilang sejak awal. Dia jelas-jelas tahu kalau ponselku rusak sehingga aku tidak dapat dihubungi.

Baiklah, sudah kuputuskan. Jika setengah jam lagi dia belum datang, maka aku akan pulang menggunakan kendaraan umum.

“CLOE!”

Ah, datang juga.

Tunggu, ini dia tidak mengatakan maaf atau apa? Ayolah, Damian. Aku sudah menunggumu selama satu jam. Setidaknya, ucapan maaf mungkin? Oh, oh. Aku harusnya paham. Seorang Damian tidak akan mengucapkan kata sepele itu padaku. Yah sudahlah, mari bersyukur saja. Setidaknya uang sakuku aman untuk ditabung. Tidak melayang untuk naik kendaraan umum.

***

“Kita mau ke mana?”

“Ke sebuah tempat.”

Aku memutar bola mata. Sebaiknya aku diam saja. Karena bertanya juga percuma.

“Sudah sampai.” Damian memberhentikan motor. Memarkirkannya di sebelah motor-motor lain yang berjajar rapi. Sekarang, kami berada di depan sebuah toko gadget.

Ah, aku tahu. Uang dari kerja paruh waktunya pasti sudah mencukupi untuk beli ponsel baru.

Kami masuk ke dalam toko tersebut. Barang-barang elektronik terjajar rapi di etalase. Ada ponsel, laptop, headphone, speaker, dan banyak sekali barang elektronik sejenis itu. Dwimanikku memandang deretan ponsel yang tertata rapi. Membaca satu persatu merk ponsel tersebut.

Seandainya saja, aku bisa membelinya satu. Yang paling murah juga tidak apa. Tapi tetap saja, bahkan uang tabunganku saja masih belum cukup untuk membeli ponsel. Meskipun itu yang paling murah.

“Pilihkan yang menurutmu bagus.” Damian berdiri di sebelahku.

“Entahlah, aku tidak tahu mana yang bagus. Kau pilih saja sendiri, lagipula kan biasanya laki-laki jauh lebih baik dalam memilih hal seperti ini.” aku memberi jeda, “Sudah sana pilih. Aku tunggu di luar.”

***

“Ini ponselmu. Kenapa aku yang suruh bawa?” aku mengomel sambil membawa tas kertas yang di dalamnya berisi ponsel. Sejak tadi, ia tidak mau membawa tas kertas ini. Saat makan di tempat makan tadi, ia menyuruhku untuk membawanya. Sekarang saat sudah sampai rumah pun, ia langsung turun dari motor dan masuk ke rumah.

Dasar tidak berperikemanusiaan. Sudah tahu adiknya ponselnya rusak, eh justru disuruh membawakan miliknya yang baru beli.

“Kata siapa itu punyaku? Itu untukmu.”

Tunggu, aku tidak salah dengar kan?

“Itu untukmu, Cloe. Ponselku sudah benar kok. Hanya ganti layar saja.”


Aku tidak bisa menutupi kebahagiaanku. Aku berteriak mengucapkan terimakasih, dan langsung memeluk Damian. Sepertinya, orang-orang benar. Mempunyai kakak laki-laki adalah anugerah. Bersyukurlah kalian yang mempunyai kakak laki-laki. Bagi yang tidak punya, jangan iri padaku, ya! 

Merah dan Biru



Seandainya aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, aku tidak akan pernah mengenalnya. Yah, meski hanya sebuah nama.

***

Seharusnya aku sudah tahu jika akhirnya akan menjadi seperti ini. Seharusnya sejak awal semuanya tidak dimulai. Betapa bodohnya aku berharap bahwa semuanya akan berubah. Berharap bahwa suatu saat, salah satu dari kami akan berkorban. Tapi buktinya, harapan itu hanyalah sebuah harapan kosong.

***

Dua cangkir kopi yang asapnya masih mengepul menghiasi pertemuan kami di sebuah kafe. Kafe yang menjadi saksi bisu pertemuan pertama kami.

Lelaki yang ada di hadapanku mulai menyeruput kopinya. Ia belum bicara sejak tadi. Aku tahu, dia menungguku berkata-kata.

Detik-detik berlalu dan aku belum juga bicara. Sejujurnya, aku tidak ingin membicarakan ini. Memikirkannya saja sudah berat. Apalagi jika mengingat dampak dari pembicaraan ini.

"Bagaimana?" dia akhirnya bertanya.

Aku menunduk. Tidak berani memandang wajahnya. Aku belum siap untuk mengeluarkan kata-kata. Lidahku terasa kaku.

"Ros," dia memanggilku lembut. Aku tahu jelas, di balik nada lembutnya, dia menuntut sebuah penjelasan. Penjelasan yang sudah ditunggu-tunggu olehnya sejak lama, sejak dua bulan lalu. Sejak dia memberikan sebuah cincin yang sampai saat ini belum pernah betengger di jari manisku.

Aku menarik napas panjang, mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya, lalu dengan berat hati, aku menggeleng lemah, "Maaf, aku tidak bisa."

Dia mengembuskan napas panjang, "Aku sudah tahu kamu pasti akan mengatakan hal ini."

Jika kamu sudah tahu, kenapa harus mengajakku bertemu?

Ingin sekali aku bertanya seperti itu. Tapi nyatanya, pertanyaan itu tersangkut di kerongkongan, kemudian tertelan lagi dan tidak pernah keluar.

Setelah itu, kami tidak saling bicara. Yah, karena memang sudah tidak ada yang bisa dibicarakan lagi.

***

Entah bagaimana jadinya jika aku tidak pernah bertemu dia. Apa mungkin aku sekarang sudah bahagia? Atau justru keadaanku lebih terpuruk dari ini?

Jika kau penasaran seperti apa pertemuan yang aku bicarakan, baiklah. Akan aku ceritakan.

Kala itu, ketika aku keluar dari sebuah kafe. Ada seorang lelaki menghampiri. Dia membawa sebuah buku tulis bersampul biru. Buku yang tidak asing. Ah, aku baru ingat bahwa buku itu tempatku mencatat semua hal-hal penting yang mungkin saja aku lupakan—jadwal kuliah, misalnya.

Lelaki yang belum kuketahui namanya itu menyerahkan buku bersampul biru, “Ini milikmu, kan?” Dia menarik ujung-ujung bibirnya, membentuk sebuah lengkungan.

Ah, betapa cerobohnya aku meninggalkan buku itu di sana.

Aku mengangguk sembari menerima buku bersampul biru itu, “Terimakasih.”
“Sama-sama, Rosa.”

Aku mengerutkan kening ketika mendengar namaku disebut. Bagaimana bisa ia tahu namaku? Oh iya, tentu saja itu karena nama yang tertera di buku ini.

Pertemuan pertama. Jika ada pertemuan pertama, maka ada pertemuan kedua. Jika kau berpikir bahwa pertemuan kedua itu terjadi di sebuah kafe yang sama, kau salah besar. Faktanya, pertemuan kedua terjadi di sebuah toko buku. Kala itu, aku sedang memandangi judul-judul novel terjemahan yang tertata rapi di rak buku.

Pertemuan kedua tidak romantis. Tangan kami tidak bersentuhan karena ingin mengambil buku yang sama. Yah, ini tidak seperti film-film romantis yang sering kau lihat.

“Rosa?” ucapnya agak ragu-ragu.

Aku menoleh. Kemudian memberikan senyuman terbaikku. Ia balas tersenyum. Kali ini, senyumnya lebih indah dibandingkan sebelumnya.

“Namamu siapa?”

Tiba-tiba saja, pertanyaan itu meluncur dari bibirku.

“Adrian.”

Kami saling berpandangan. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima. Lima detik. Dan itu cukup untuk membuat seorang gadis bernama Rosa jatuh cinta. Iya, aku jatuh cinta.

Sebuah perasaan yang ternyata akan aku sesali di tahun-tahun berikutnya. Pertemuan indah yang pada awalnya membahagiakan. Namun tidak berujung bahagia.

Percuma. Semuanya sudah terjadi. Dan tentu saja, tidak ada orang yang bisa mengubah masa lalu yang sudah terjadi. Ah, seandainya aku hidup di dunia doraemon. Aku tidak perlu merasa sepusing ini.

Semuanya memang menyenangkan pada awalnya. Sampai pada akhirnya masing-masing dari kami mengerti bahwa kami berbeda.

Mungkin bagi orang-orang, perbedaan itu indah. Tapi apakah orang-orang masih berpikir bahwa perbedaan itu tetap indah jika hal itu memisahkan dua orang yang saling mencintai? Bagaimana jika dua insan manusia itu tidak bisa bersama karena sebuah perbedaan? Apakah perbedaan masih dianggap indah?

***

"Ros, sepertinya kamu sudah tahu ke mana hubungan ini akan pergi."

Tanpa menungguku berkata-kata, Adrian pergi. Dan aku masih tetap menunduk. Memandangi secangkir kopi yang bahkan belum habis setengahnya. Beberapa detik kemudian, aku merasakan pipiku menghangat.

“Adrian,” panggilku pelan. Tentu saja, itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Yang dipanggil tidak akan datang. Karena dia sudah terlanjur pergi jauh.

***

Kevin dan Chelsea berdiri di altar. Mendengarkan sang pastur mengucapkan janji-janji pernikahan. Betapa bahagianya mereka.

Sungguh, hatiku ngilu ketika melihat pemandangan itu. Entah sejak kapan, bulir-bulir mataku keluar.
Seharusnya hari ini akulah yang berdiri di sana. Hal itu akan terjadi jika dia mau berkorban. Atau mungkin, kami akan duduk di depan penghulu jika aku yang berkorban. Tapi faktanya, salah satu di antara kami tidak ada yang berkorban.

Aku tidak menyalahkannya jika dia tidak mau berkorban. Aku paham betul, suatu kepercayaan bukanlah sesuatu hal yang bisa dikorbankan. Ini menyangkut hubungan dengan Tuhan. Apakah hal semacam ini pantas untuk dikorbankan untuk satu hal yang bernama cinta?

Apa yang akan didapat jika aku mengorbankan kepercayaan? Apa aku akan mendapatkan sebuah kebahagiaan? Bagaimana jika nantinya, setelah semua dikorbankan, aku tidak mendapat apa-apa?
Bagaimana jika pilihan kami ternyata salah? Bagaimana jika suatu saat, aku tidak mencintai dia lagi?
Mungkin, sejak awal kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Seharusnya aku berhenti berharap saat itu. Saat aku duduk di beranda masjid. Menunggui dia beribadah.

Akhirnya, kalung salib ini tidak akan pernah kulepas. Dan dia tidak akan pernah meninggalkan lima waktunya. Keputusan kami tidak akan berubah. Selamanya akan terus seperti itu. Dan aku, tidak akan pernah menyesali pilihanku.

Akhirnya, kami hanya merah dan biru. Iya, merah dan biru yang tidak akan pernah berubah menjadi ungu.

Potongan-Potongan yang Tidak akan Pernah Utuh.



Kapan kau datang? Kenapa kau tidak pernah datang dan menepati janjimu? Tidak bisakah kau datang, meski hanya sekadar untuk memberi salam?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja berputar-putar dalam pikiran Alva. Pertanyaan yang sama, sejak lima tahun lalu. Entah bagaimanapun Alva mencoba, ia tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ia juga sudah memaksa otaknya untuk melupakan. Tapi percuma, semua pertanyaan itu tetap melekat. Seperti sebuah benalu yang menempel pada inangnya. Sungguh mengganggu.

***

Lelaki itu memotret sebuah akuarium besar yang di dalamnya terdapat beberapa ikan hiu. Tentu saja, lelaki yang bernama Alva tidak akan membuang waktunya hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak penting seperti memotret akuarium. Yah, jika tidak karena sebuah luka yang harus diobati, ia tidak mungkin datang ke sini.

Luka yang dialaminya bukan luka fisik yang bisa dilihat orang lain. Luka ini tidak bisa dilihat oleh siapa pun, bahkan oleh si empunya luka. Luka ini tidak dapat terdeteksi meskipun dengan alat canggih. Luka ini tak terbentuk, tapi sangat terasa.

Luka yang disebabkan oleh rasa rindu terhadap seseorang. Luka yang tidak mungkin bisa disembuhkan meski ia telah berobat berulang kali. Luka ini hanya bisa sembuh, ketika Alva berhasil bertemu dengan seseorang itu. Sayangnya, ia tidak bisa. Ia hanya bisa pergi ke tempat-tempat yang penuh kenangan. Mengumpulkan potongan-potongan masa lalu yang dia tahu, bahwa potongan-potongan itu tidak akan pernah lengkap. Sekeras apa pun dia berusaha mengumpulkan.

Lelaki yang saat ini mengenakan kaus berwarna abu-abu itu memandangi hasil potretannya.

***

“Kenapa kamu ngajak ke sini?” Alva memandang gadis yang sedang asyik melikah-lihat ikan.

“Di sini banyak ikan.” Jawab gadis itu tanpa menoleh pada sang penanya.

“Cuma karena itu?”

Gadis itu menggeleng, “Aku belum pernah ke sini sebelumnya.” Gadis itu memberi jeda, “Aku pingin kamu jadi orang pertama yang nemenin aku ke sini,”  ucapnya lirih. Tak terdengar jelas oleh Alva.

“Apa?”

“Eh, Alva! Kita foto di sini, yuk!” Gadis yang biasa dipanggil Zaphire itu langsung berdiri di depan akuarium besar yang di dalamnya terdapat beberapa ikan hiu.

Alva mundur beberapa langkah, ia medekatkan kamera yang menggantung di lehernya itu ke mata. Bersiap untuk memotret Zaphire.

“Alva! Kita yang difoto. Bukan cuma aku.” Zaphire langsung menghampiri lelaki itu. Ditariknya sebuah tangan yang jauh lebih besar darinya. Kemudian, ia memposisikan Alva di salah satu sisi di depan akuarium. Matanya memandangi satu persatu pengunjung yang ada di sana. Entah apa maksudnya, Alva tidak paham.

“Mbak, tolong fotoin kita, dong!” ucap Zaphire ketika ada seorang perempuan yang lewat di depan mereka berdua. Zaphire mengambil kamera yang sejak tadi menggantung di leher Alva, menyerahkannya pada perempuan yang tadi diajaknya bicara.

“Zaph!” Alva kini menatap tajam ke arah Zaphire. Menandakan bahwa ia tidak ingin dipotret. Melihat tatapan tajam Alva, Zaphire nyengir.

“Lihat kamera, Al. Jangan lihat aku.”

Alva memutar bola mata. Ia memandang kamera.

“Satu, dua, tiga.”

Cklik.

Setelah mengucapkan terimakasih kepada perempuan yang baru saja membantu, Zaphire melihat hasil foto. Di sana, terlihat seorang gadis yang rambutnya diikat ke belakang, ia memamerkan gigi-giginya yang rapi, salah satu tangannya membentuk huruf V. Sementara lelaki di sebelahnya, memunculkan wajah tanpa ekspresi. Ah, ia memang selalu begitu jika dipotret.

“Harusnya tadi kamu senyum,” ucap Zaphire ketika melihat foto yang baru saja dilakukan oleh mereka.

Lelaki yang saat itu mengenakan kaus berwarna abu-abu itu berdecak. Bola matanya berputar. Menurutnya, berfoto adalah sesuatu hal yang menyebalkan dan sangat sangat sangat tidak penting. Yah, itu adalah pikirannya saat itu. Jika saja dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dia akan berfoto dengan Zaphire sebanyak-banyaknya.

***

“Alva!” seseorang memanggilnya. Membuat ia kehilangan kenangan-kenangan yang baru saja bermunculan di otaknya. “Ngapain lo masih di sini?” Lelaki yang tadi memanggil kini sudah ada di hadapannya. “Lo udah ditungguin.”

Alva melihat jam tangan cokelat yang melingkar di pergelangan tangan. Astaga! Ternyata sudah sesore ini. Ia lupa bahwa ia ada janji bertemu dengan teman-temannya.

“Sorry, Do. Gue lupa. Serius.”

“Keasyikkan berburu masa lalu sih, lo!”

Berburu masa lalu?

***

Entah ini sudah hari Minggu yang ke berapa. Sejak lima tahun terakhir, Alva selalu membuang hari Minggunya di sebuah kafe. Kafe yang sama. Jika bukan karena Zaphire, tentu saja dia bisa menggunakan waktunya untuk hal yang lebih berguna. Tapi asal tahu saja, sebanyak apa pun waktu yang terbuang, Alva tidak pernah menyesal. Ia yakin, bahwa suatu saat, usahanya untuk menunggu tidak sia-sia.

“Kak Alva?”

Alva yang sedang memandangi secangkir kopi yang sudah habis setengah itu menoleh ke asal suara. Seorang gadis yang lebih muda darinya datang menghampiri. Gadis itu langsung duduk di hadapannya.

Siapa?

Lelaki itu memandangi wajah gadis itu lekat-lekat. Berusaha untuk mengenali. Wajah itu. Alva yakin ia pernah memandang wajah itu di suatu tempat. Ia sangat yakin, ini bukan kali pertamanya ia bertemu dengan gadis ini.

Di mana?

“Kak Alva, kan?”

Kenapa dia bisa mengenaliku?

Alva mengangguk.

Gadis itu menunduk, “Maaf, Kak.”

“Maaf?” Alva menautkan kedua alisnya, “Kamu yakin nggak salah orang?”

Gadis itu menggeleng, “Ini soal Kak Zaphire.”

Jantung Alva hampir saja meloncat dari tempatnya ketika mendengar nama Zaphire disebut. Ratusan pertanyaan langsung bermunculan di dalam kepalanya. Separuh jiwanya ingin semua pertanyaan itu terjawab. Tapi, separuh jiwa sisanya, tidak ingin tahu tentang jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. Jika saja gadis di hadapannya ini tidak mengucapkan kata maaf di awal, maka seluruh jiwanya ingin mengetahui jawaban dari pertanyaan yang sudah bersarang di kepalanya selama lima tahun terakhir.

“Kak Zaphire minta maaf. Dia nggak bisa menepati janjinya buat ketemu Kak Alva. Jadi, Kak Alva nggak perlu repot-repot buat dateng ke sini lagi.”

“Kenapa?”

***


“Zaphire,” Lelaki yang saat ini mengenakan kaus abu-abu itu memegang sebuah nisan. Air matanya mengalir. Entah sejak kapan.

Make A Wish

Ayah Arsen dan Ara
Hari ini tanggal enam juli, harusnya Arsen sudah pulang sejak tadi. Mengingat hari ini adalah ulang tahun anak gadisnya—Ara—yang ke lima. Di layar ponselnya juga sudah tercatat dua puluh panggilan tak terjawab dari sang istri.

Ini sudah jam sembilan malam, tapi Arsen masih harus meeting. Sialan memang, padahal ia telah berjanji akan merayakan ulang tahun anak gadisnya, dan memberikan sebuah hadiah. Nyatanya? Boro-boro memberikan hadiah, ia bahkan tidak menampakkan batang hidungnya saat pesta ulang tahun Ara berlangsung.

“Pak Arsen?” panggil asistennya.

“Iya?” Lelaki itu tersadar dari lamunannya, lalu menoleh ke arah perempuan yang tadi memanggilnya.

“Meetingnya sudah selesai, Pak.”

Arsen menyisir ke seluruh ruangan, orang-orang di sekitarnya terlihat sedang berkemas, dan bosnya ternyata sudah keluar dari ruangan.

***

“Ayah jahat!” Ara memukul-mukul boneka beruang yang diberikan ayahnya saat ulang tahun sebelumnya. “Ayah jahat!” teriaknya lagi.

Tumpukkan hadiah yang diberikan oleh teman-temannya tadi seolah tidak berguna. Gadis kecil itu bahkan sama sekali tidak meliriknya.  Ia bisa saja tadi tersenyum senang saat teman-temannya datang. Tapi saat semuanya pulang, dan jam menunjukkan pukul delapan, gadis itu menangis sejadi-jadinya.

Tanpa babibu, ia langsung masuk kamar dan mengunci pintunya. Baginya saat ini, Ayahnya adalah seorang pembohong besar. Bahkan lebih kejam dari penjahat manapun.

Sang ibu sudah berusaha untuk menenangkan, tapi tetap tak digubris karena yang dibutuhkan oleh gadis kecil itu saat ini adalah Sang Ayah. Ia masih belum lelah untuk menangis, padahal sudah terhitung satu jam sejak tadi dia mulai membanting pintu kamar.

“Araaaaaa, sabar ya sebentar lagi ayah pulang,” ucap sang Ibu dari luar pintu.

Ara tidak peduli. Ibunya juga pembohong. Sudah sejak tadi sang Ibu berkata sebentar lagi, sebentar lagi, dan sebentar lagi. Kenyataannya? Selama apa sebenarnya sebentar lagi? Sampai satu jam?
“Araa, ini Ayah.” Arsen kini sudah berdiri di depan pintu kamar sang anak. Mengetuk-ngetuk pintunya.

Tangis Ara langsung berhenti. Gadis kecil itu berjalan menuju pintu, membuka kuncinya, dan sosok sang ayah langsung menyambutnya di balik pintu.

“Ayah Jahat!” teriaknya sambil memukul perut sang ayah.

Arsen berjongkok, menyejajarkan tinggi badannya dengan sang putri, tangannya mengelus lembut kepala Ara.

“Ara mau hadiah apa? Nanti ayah belikan,” ucapnya kalem.

Mata gadis itu berbinar, “Beneran?”

Arsen mengangguk. Ia yakin, anak gadisnya ini paling meminta boneka barbie, atau apalah yang ada sangkut pautnya dengan princess dalam kisah di film disney.

“Ara mau jalan-jalan keliling dunia! Naik pegasus! Ayah mau ya, beliin Ara pegasus?”

Mati kau, Arsen. Mana ada pegasus di dunia ini?

Jika saja yang bicara seperti itu bukan gadis yang berumur lima tahun, maka Arsen akan berkata bahwa itu adalah hal konyol. Dan hei, di mana ada pegasus? Astaga, pegasus bahkan tidak pernah ada dan sekarang Arsen harus membelinya.

“Pegasus itu keren, Yah! Besok kita beli yaaa!”

Arsen berpikir keras. Menyusun kata-kata yang bagus agar gadis kecilnya dapat mengerti.

“Ara,” Arsen memulai. “Pegasus itu tidak ada yang jual. Dia terlalu istimewa, jadi cuma orang-orang tertentu saja yang bisa punya.”

Raut wajah Ara langsung berubah drastis, “Jadi, Ara nggak bisa keliling dunia ya, Yah?”
“Bisa, kok. Tapi naik pesawat. Bukan naik pegasus.”

“Ara mau beli pesawat!”

Mampus, kau Arsen.


“Iya, iya. Sekarang tidur dulu ya, besok belinya.” Kata Arsen pada akhirnya. Ia terlalu lelah dan terlalu pusing untuk berpikir lagi. Dan semoga saja gadisnya ini sudah lupa pasal pesawat atau pegasus saat bangun nanti. Yah, semoga.

Prom Night

Visualisasi Arka:)



Elena menyendiri. Ia sedang asyik meminum segelas soda yang baru saja ia ambil. Gadis itu benar-benar menyesal telah datang ke pesta ini. Sendirian.

Iya, Elena memang nekat untuk datang ke prom night sendirian. Harusnya dia tahu, bahwa yang namanya Prom Night pasti akan berpasang-pasangan. Yah, meskipun tidak ada aturan tertulis, tapi acara yang digelar sehari setelah wisuda itu selalu seperti ini tiap tahun. Berpasang-pasangan. Entah siapa yang membuat peraturan sialan ini.

Berhari-hari sebelum acara, orang-orang--yang tidak punya kekasih alias jomblo--berlomba-lomba mencari pasangan. Mereka mengajak teman, atau bahkan adik sendiri--karena tidak ada pilihan lain.

Dan bodohnya, Elena datang ke sini sendirian. Elena harusnya mengikuti saran Anin. Anin bersikeras tidak ikut ke Prom Night, karena tidak memiliki pasangan. Sebenarnya Anin punya pacar. Tapi pacarnya, Si Agra, sedang asyik liburan bersama keluarganya.

Elena mengikuti acara ini bukan tanpa sebab. Tapi, karena ada acara pertemuan di rumahnya. Di mana sang mantan pacar, yang notabene adalah anak dari rekan bisnis Sang Ayah, akan datang. Daripada bertemu mantan, dan mengingat kisah yang ujung-ujungnya akan membuat Elena gagal move on, maka gadis itu memilih untuk pergi ke prom.

Yang nyatanya sama saja mengenaskan karena Elena datang sendiri.

Teman-temannya--oh, atau bahkan hampir semua orang yang ada di sini--memandanginya seolah Elena adalah orang yang aneh dan gila. Ya, saat Elena masuk ke ruangan, semuanya langsung memandangi dan berbisik-bisik. Seolah Elena adalah terduga tersangka yang baru masuk ruang sidang.

"El, sendirian aja?" Sapa Iona.

Elena mengangguk, "Kamu sama siapa?"

Iona menunjuk salah seorang lelaki yang kini tengah mengobrol dengan beberapa orang di dekat panggung.

"Duluan ya, El." Iona yang telah mengambil minuman soda, pergi meninggalkan Elena.

Elena melihat jam tangan. Sudah jam sembilan. Gadis itu mengirim pesan pada adiknya--Viona--menanyakan apakah tamu di rumahnya sudah pulang, dan ternyata belum. Viona juga mengatakan bahwa Elena dicari oleh sang mantan.

Beruntung Elena kabur ke sini. Jadi ia tidak perlu bertemu dengan mantan kekasih. Tapi keberuntungan Elena hanya bertahan sebentar saja, karena sebentar lagi acara dansa akan dimulai dan semua orang yang ada di sini sudah berpasang-pasangan--kecuali Elena.

Sialan.

Elena lebih baik pergi dari sini sebelum musik untuk dansa dipu--

Astaga, terlambat. Musik untuk dansa sudah diputar dan sekarang saatnya untuk menari. Elena tidak mungkin keluar dari aula karena yah, jika ia ingin keluar maka ia harus melewati orang-orang yang tengah berdansa itu.

"Hai," sapa seseorang ketika Elena sedang berpikir bagaimana caranya kabur.

"Oh, hai!"

Lelaki mengenakan jas berwarna hitam tersenyum ke arahnya. Ah, Elena tahu orang ini. Dia adalah mantan kapten tim futsal. Namanya kalau tidak salah--

"Arka," lelaki itu menjulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Elena.

"Elena."

"Yah, aku tahu. Kenapa nggak sama Arsen?"

"Udah putus. Kok kamu tahu Arsen?"

Arka terlihat kaget ketika mendengar jawaban dari Elena.

"Siapa yang nggak tahu Elena Arsen? Pasangan paling terkenal seantero sekolah. Atau mungkin, se-Indonesia?"

Elena tertawa canggung. "Kamu lebay."

"Loh, kamu kan youtuber, El. Subcribermu banyak. Wajar kan kalau terkenal?"

Ah, iya. Kenapa Elena bisa lupa bahwa dirinya pernah--atau mungkin sering?--membuat video bersama Arsen, lalu diunggah ke akunnya. Perbuatan yang sangat Elena sesali, karena sekarang hubungan mereka telah kandas.

Elena sampai tidak ada niat untuk mengurus akun youtubenya lagi, dikarenakan banyak kenangan mengenai dirinya dengan Arsen.

"El, mau dansa?"

Elena mengangguk. Arka menarik Elena ke tengah-tengah, membiarkan keduanya menjadi pusat perhatian.

"Ngomong-ngomong, kenapa kamu datang ke sini sendiri?"

"Tadi baru putus." Arka tertawa canggung.

Mereka berdua hanya diam. Keduanya asyik berdansa. Mengetuk-ngetukkan kaki mereka pada lantai, mengikuti alunan musik yang menguar di seluruh ruangan. Tanpa sadar, salah satu dari mereka jatuh. Jatuh cinta.

Feel Changed

Image result for bunga aesthetic tumblr

“Permisi, Kau tahu di mana rumah Damian?” tanya seorang perempuan berambut pendek yang sudah bolak-balik dua kali melewati rumah Aurore.


Aurore yang sedang asyik menyirami bunga-bunganya, menghentikan aktifitas. Ia menarik ujung-ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan, lalu menangguk. Terlihat binar di mata perempuan itu kala Aurore mengangguk.

“Kau tahu?” sepertinya, perempuan itu masih kurang yakin dengan anggukan Aurore tadi.

“Iya,” tegas Aurore. Ia menunjuk sebuah rumah yang ada di seberangnya. “Itu.” dan tepat setelah itu, Damian keluar dari rumah. Bukan, bukan. Lelaki itu tidak keluar dari rumahnya. Tetapi dari rumah Aurore.

“Rore, kenapa laptopmu menda—“ Damian langsung berhenti bicara ketika sepasang matanya menangkap kehadiran perempuan berambut pendek yang entah siapa namanya. “Oh, hai Aleen.”

Yang dipanggil Aleen langsung melambai, melangkahkan kaki menuju Damian dan langsung memeluknya. “Aku rinduuuuu! Kau apa kabar?” tanya Aleen setelah melepas pelukannya pada Damian.

Astaga, langit terlalu cerah, dan bunga-bunga milik Aurore terlalu indah untuk melihat raut tidak enak yang muncul di wajah Aurore yang langsung berubah menjadi ceria—ehm, pura-pura ceria—saat Damian menatapnya. Tatapan yang mengisyaratkan Aurore untuk menatap Damian.

“Oh, hai Aleen.” Gadis itu meletakkan gembornya,  lalu bersalaman dengan Aleen. Seseorang yang tiba-tiba datang dan berhasil membuat moodnya rusak.

“Hai,” Aleen menyambut tangan Aurore, “Namamu—“

“Aurore,”

“Hai, Aurore!”

“Aleen, ayo ke rumahku saja.” Damian kemudian menatap Aurore, “Laptopmu mati, omong-omong. Padahal tugasku belum disimpan.”

“Tenang saja, bisa tersimpan otomatis kok.”

Aurore sebenarnya malas harus berpura-pura, lagipula kenapa sih Aleen harus melempar sebuah senyuman padanya? Jadi dengan sangat terpaksa—karena ada Damian—Aurore membalas senyum gadis itu.

Aurore hanya bisa tersenyum pahit memandang punggung seseorang yang telah membuatnya jatuh, dan perempuan yang selalu Damian ceritakan sampai keduanya telah menghilang, di balik pintu rumah Damian.

***

Aurore tidak henti-hentinya mengintip dari balik jendela, menunggu Damian dan Aleen keluar rumah, tapi tidak kunjung keluar juga. Lagi-lagi, yang terdengar hanya tawa mereka berdua—pintu rumah Damian tebuka omong-omong.

Padahal sudah dua jam si Aleen itu bertamu. Dan hari makin gelap. Ah, seharusnya sejak lalu Aurore mencegah dirinya jatuh terlalu dalam pada Damian.

***

“Rore, kau menangis?” tanya Damian keesokan harinya.

Aurore tertawa canggung, “Aku menonton film sedih.”

Damian hanya ber ooh ria. “Ngomong-ngomong, aku senang bisa bertemu dengan Aleen. Aku tidak menyangka dia mencari rumahku.”

Astaga, Damian. Tolong jangan soal Aleen. Lagi.

“Lalu?” Ah, bodoh. Kenapa pula Aurore harus bertanya?

“Yah, dia ingin kami kembali seperti dulu.” Jawab Damian enteng. Ia tidak paham, bahwa ada sesuatu yang patah sekarang.

Lelaki itu tersenyum, “Tentu saja aku tidak mau. Perasaanku sudah berubah. Berbelok dari Aleen menuju tetanggaku yang menyebalkan.”

Aurore tidak bisa menyembunyikan senyumnya, dia terlalu bahagia. Maaf saja untuk Aleen, yang kini merasakan segala hal yang pernah dirasakan oleh Aurore dua tahun.

Rumah Baru

Related image




Vanessa senang. Hari ini, sudah saatnya dia dan Elle pindah ke rumah baru. Ia sudah sangat penasaran dengan kondisi rumah baru. Kalau Elle sih, sudah tahu. Beberapa hari lalu Elle diajak oleh Mom untuk mendatangi rumah baru. Elle sangat senang. Kata Elle, rumahnya bagus. Dan jauuuuh lebih luas dari rumah lama mereka sekarang.

Kalau Elle senang, maka Vanessa juga senang. Elle cerita banyak hal pada Vanessa.

“Vanessaaa!” Kata Elle saat masuk ke dalam kamar—beberapa hari lalu setelah Elle pulang dari rumah baru.

“Kau harus tahu,” Elle menutup pintu, mendekati Vanessa. “Rumah baru sangat luaaas sekali! Kita bisa bermain apa pun di sanaaa! Oh iya, ada taman yang luas di depan rumaaah! Kita bisa berlari-lari, lompat tali, dan masih banyak lagi!”

Vanessa hanya tersenyum.

“Ohh, oh, oh!” Mata Elle berbinar, dari wajahnya terpancar bahwa ia mengingat sesuatu yang sangat menakjubkan. “Kudengar, banyak anak seumuranku di sekitar sana. Jadi, kita tidak hanya main berduaaa!” cerita Elle sangat antusias.

***

Vanessa senang. Sekarang mereka sudah ada di rumah baru. Elle kini tengah asyik berkenalan dengan gadis-gadis seusianya. Mereka kini sedang asyik bermain boneka, memperkenalkan boneka milik masing-masing.

Vanessa tersenyum, yah, Vanessa memang selalu tersenyum. Ia memandangi Elle yang kini sangat bahagia. Baru dua kali ia melihat Elle sebahagia ini. Pertama, saat Elle bertemu dengannya. Dan kedua, saat ini.

Di balik jendela, Vanessa melihat semuanya. Bagaimana Elle bermain sepeda bersama teman-temannya, soal matahari yang secara tidak langsung membuat Elle masuk ke dalam rumah, dan soal rintik-rintik hujan yang kadang membuat garis cerah di wajah Elle menjadi keruh.

Vanessa beruntung. Meskipun ia tidak bisa bermain bersama Elle lagi, tapi setidaknya dia tidak terkurung di kamar seperti di rumah lama. Di sini, di balik jendela besar yang ada di ruang tamu, Vanessa bisa memandangi lalu lalang kendaraan.

Bahkan, ia kadang melihat Elle melambaikan tangan padanya. Dan Vanessa hanya tersenyum. Yah, ia tidak bisa melambai. Ia juga tidak bisa ikut bermain bersama Elle. Yang bisa ia lakukan hanyala berada di balik jendela selama-lamanya.

Bagaimana bisa Vanessa bisa melakukan hal lain jika ia hanya sebuah boneka berisi dakron yang dibuat oleh Elle dan ibunya?


Wynstelle



Hidup memang tidak selalu sesuai dengan yang diinginkan.

***

Seperti halnya pagi ini. Sebuah keajaiban terjadi pagi ini. Seorang gadis bergerak. Dia bahkan melompat-lompat sembari menyanyikan sebuah lagu yang tidak Damian mengerti. Selain liriknya yang terlalu cepat, suara gadis yang terlalu lirih itu membuatnya tidak bisa mendengar dengan jelas. Tunggu, itu bukan poin pentingnya. Poin pentingnya adalah—

gadis itu bergerak.

Perlu digaris bawahi. Gadis itu bergerak. Mungkin jika gadis itu bergerak saat Damian sedang tidak melakukan ilmu saktinya—menghentikan waktu—itu adalah hal biasa. Tapi, ini aneh. Lihatlah, bahkan salju yang hendak jatuh pun melayang. Mobil yang seharusnya jalan justru berhenti.

Seharusnya, hanya ia yang dapat bergerak. Tapi—

mengapa?

Ini adalah pertama kalinya. Biasanya, kemampuannya itu ampuh pada siapa pun—yang ada di bumi tentunya. Damian yakin betul, bahwa ia masih berada di bumi pagi ini. Dan, yah, tidak ada yang bergerak lagi selain gadis itu.

Baiklah, mungkin sebaiknya Damian turun ke bawah sana—dia sejak tadi hanya berdiri di belakang jendela flatnya omong-omong—dan bertanya kepada gadis itu.

“Hei,” panggil Damian ketika ia sudah sampai di bawah. Gadis yang dipanggil tidak merespon. Ia masih tetap menyanyikan lagu yang berirama cepat.

“Hei,” panggil Damian lagi. Tapi ia telah melakukan sebuah hal yang sangat sia-sia. Gadis itu masih tidak merespons. Ia sibuk dengan earphone yang menyumpal kupingnya.

Bodoh. Seharusnya Damian menyentuhnya. Karena indra peraba gadis itu lebih berfungsi ketimbang indra pendengarnya.

Sepertinya Damian harus melakukan ini. Ia harus menahan rasa jijiknya untuk menyentuh manusia bumi. Terlebih lagi, ia lupa mengenakan sarung tangan yang biasanya ia pakai ketika ia harus beraktifitas dengan manusia bumi.

Rasa penasarannya sudah mencapai ubun-ubun. Bisa-bisa, ia akan kesakitan jika rasa penasaran itu semakin tinggi dan semakin tinggi.

Yah, Damian memang makhluk yang aneh. Ia akan kesakitan jika rasa penasarannya tidak melebihi batas normal. Selain itu, ia juga sangat sangat tidak suka menyentuh makhluk bumi. Menurutnya, makhluk bumi sangatlah menjijikkan. Aneh sekali.

Padahal, dilihat dari fisiknya, tidak ada yang berbeda antara Damian dengan makhluk bumi—manusia.

Damian menyentuh pundak gadis itu. Yang disentuh menoleh. Gadis itu menarik ujung-ujung bibirnya dan memberikan sebuah senyuman.

Tapi bukan senyuman itu yang menjadi fokus Damian. Mata. Mata gadis itu sama persis dengan miliknya—sama-sama berwarna hijau. Kau tahu, menurut survei yang ia baca di internet, hanya dua persen manusia yang memiliki warna mata berwarna hijau.

Dan seratus persen makhluk di planet Damian memiliki iris berwarna hijau.

Jangan-jangan, gadis ini juga makhluk yang sama sepertinya? Jangan-jangan, gadis ini dari Wynstelle land?

Tidak, tidak, tidak mungkin. Satu-satunya makhluk Wynstelle yang mengetahui jalan menuju bumi hanyalah dirinya. Lagipula, gadis ini tidak menunjukan sinyal atau tanda apapun yang mengarah pada makhluk Wynstelle—mata yang menyala saat berhadapan dengan sesama makhluk Wynstelle misalnya.

“Kenapa kau bergerak?”

Gadis itu menatap Damian dengan heran, “Maksudmu?”

“Yah, lihatlah sekelilingmu.”

Gadis itu menyusuri tiap sudut kota. Dan menemukan suatu kejanggalan. Semuanya berhenti. Hanya dia dan lelaki di hadapannya itu saja yang bergerak. Meskipun dia amat sangat heran, tapi gadis itu berusaha untuk bersikap sewajar mungkin. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Bisa saja kan, lelaki di hadapannya ini tiba-tiba saja membunuhnya? Maksudnya, lelaki ini aneh. Dia satu-satunya yang bergerak di sini. Dan, gadis itu tiba-tiba merasa bahwa dia juga makhluk yang aneh. Jangan-jangan selama ini fantasi liarnya itu benar?

“Jadi apa masalahmu?”

Damian mengangkat sebelah alisnya. Sebelum ia sempat berucap, gadis di hadapannya sudah lebih dahulu berucap.

“Namaku Ione, omong-omong. Jadi kau yang membuat mereka semua berhenti?”

Damian mengangguk.

Walau tidak percaya, Ione mengangguk-anggukan kepalanya.”Baiklah, bisakah kau kembalikan semuanya seperti semula? Asal kau tahu saja. Ponselku tidak bisa bergerak. Dan aku tidak bisa mendengarkan musik.”

“Jika musikmu tidak berbunyi, kenapa kau tidak menoleh ketika aku memanggil?”

“Yah, kukira kau tidak memanggilku. ‘Hei’ itu kan bukan namaku.”

“Baiklah, lupakan saja. Sekarang kau harus jawab pertanyaanku. Kenapa kau bergerak?”
Ione mengangkat bahu. “Entahlah. Mungkin karena kita satu spesies.” Jawabnya asal.

Ha. Spesies apa. Manusia? Sejak kapan manusia bisa menghentikan waktu? Tunggu, kalau dia bukan manusia? Lalu dia ini apa? Alien?

Hanya berpikir bahwa dia adalah alien berhasil membuatnya merinding—sekaligus senang. Bayangkan saja, bagaimana perasaanmu jika kau ternyata bukan seorang manusia?

Jika ini bukan dialami oleh seseorang yang bernama Ione, mungkin seseorang itu akan pingsan atau histeris atau apa pun itu. Yang pasti, tidak bersikap sewajar Ione. Asal tahu saja, gadis bermata hijau itu sudah terlalu sering membaca kisah-kisah fantasi dan berharap menjadi tokoh utamanya. Dan sekarang, harapannya terwujud!

“Maksudmu, kau bukan berasal dari bumi?” lelaki itu mengeluarkan suara.
Ione mengangkat bahu. “Aku tidak ingat masa-masa bayiku. Tapi, peristiwa terlampau  yang kuingat, aku sudah berada di bumi. Bermain seluncuran bersama kedua orang tuaku.”

Damian bingung. Ia benar-benar heran. Sungguh, baru kali ini ia menemukan orang yang se’menarik’ Ione.

“Namamu siapa?” tanya Ione tiba-tiba.

“Damian.”

“Damian, bisakah kau hentikan keilmuanmu? Maksudku, berhentilah menghentikan waktu.”

Damian mengangguk. Matanya terpejam. Bibirnya mengucapkan suatu kata-kata yang tidak Ione mengerti. Dan sedetik kemudian, semua berjalan normal kembali. Salju yang semula melayang kini telah menyentuh tanah. Dan musik dari ponsel Ione mulai berbunyi.

“Kau berasal darimana omong-omong?”

“Wynstelle land.”

Wynstelle land? Ione sepertinya pernah mendengar dua kata itu. Ah, sebaiknya Ione segera pulang karena sebentar lagi sarapan matang. “Oke, sampai jumpa nanti!” Ione pergi meninggalkan Damian yang masih kebingungan. Terlebih lagi, dengan bodohnya ia menyebutkan darimana ia berasal. Bodoh. Bagaimana jika gadis itu memberikan informasi tadi pada orang lain? Seharusnya, identitasnya tidak boleh bocor pada siapa pun.

Dalam hitungan detik, Damian sudah berlari mengejar gadis tadi. Tapi percuma saja, jalanan terlalu ramai. Dan gadis itu entah berjalan ke arah mana.

“Sial!”
***

Justru ketika kau berharap, sesuatu yang kau harapkan tidak terjadi.

***

Sudah jam sebelas. Dan gadis itu tidak kunjung lewat. Damian sudah hampir lumutan berdiri di depan jendela. Dan sudah berkali-kali ia menghentikan waktu, berharap agar lebih mudah menemukan gadis itu di antara kerumunan orang. Sampai-sampai energinya habis. Dan ia tidak mungkin melakukan kesaktiannya lagi sampai besok.


Damian sebenarnya ingin mencari gadis itu. Tapi informasi yang dimiliki mengenai gadis itu sangatlah sedikit. Hanya satu sih, lebih tepatnya. Ione. Damian hanya tahu namanya. Seharusnya, Damian meminta nomor ponsel. Atau mungkin id line. Atau akun media sosial lain yang bisa membuatnya menghubungi Ione.

END




nb: akhirnya setelah sekian lama nggak 'nyerpen'/? ini aku nyoba bikin fantasy tapi sepertinya gagal total huhu. ;-;

Love is Not Over

source:here
“Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?”  Lelaki bermata biru itu bertanya pada gadis berambut cokelat. Gadis yang baru saja menabraknya.

Gadis berambut cokelat itu menatap dalam-dalam wajah lelaki di hadapannya. Entah mengapa hatinya bergetar saat melihat wajah itu. Wajah yang seolah tak asing. Siapa?

“Kau Ariana, bukan?”

***

Jasmine sedang berjalan menuju kelas ketika Arthur—lelaki bermata biru yang  kagumi sejak lama—tiba-tiba datang menghampirinya. Lalu memberikan es krim vanilla—es krim kesukaannya.
Sebenarnya ia ingin mengucapkan terimakasih, tapi Arthur justru memberinya sebuah pertanyaan.

“Bagaimana jika kau menjadi pacarku?”

HAH?

Gadis yang ditanya tidak menjawab. Ia justru diam. Kepalanya menunduk. Memandangi sepatu putih yang dikenakannya. Membiarkan es krim di genggamannya meleleh membasahi tangan.

“Cepat kau makan es krimnya. Lihat, sudah meleleh.”

Gadis itu masih mematung. Entah kenapa tangannya tidak bisa bergerak.

“Baiklah, aku tidak memaksamu untuk menjawab sekarang. Sampai jumpa nanti!”

Arthur berbalik. Ia pergi meninggalkan Jasmine yang masih mematung. Jasmine masih berdiri di sana. Mematung. Entah kenapa kakinya terasa berat untuk melangkah. Detak jantungnya masih belum normal. Sungguh, gadis itu sebenarnya masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Apakah tadi hanya mimpi?

Gadis itu merasakan sesuatu di tangannya. Dingin.

“Astaga, es krimnya!” Ia buru-buru menjilati es krim miliknya sebelum mencair.

***

Ini sudah setahun sejak kejadian itu—saat Arthur memberikan es krim vanilla pertama kali pada Jasmine. Meskipun mereka sudah setahun berpacaran, Jasmine masih merasa aneh dengan sikap Arthur.

Lelaki bermata biru itu kadang melamun saat Jasmine sedang mengajaknya bicara. Dan, ia akan mengatakan hal yang tidak nyambung setelahnya.

“Kau mau akan apa?”

Tidak ada jawaban.

“Arthur?” Jasmine mengamit lengan lelaki bermata biru itu.

“Besok saja.”

Alis Jasmine bertaut.

“Eh, kau tadi bertanya apa?”

“Kau ini kenapa?” Jasmine justru balik bertanya. Yah, meskipun ia sudah tahu jawabannya—karena Arthur selalu menjawab pertanyaan itu dengan jawabn yang sama, selalu.

Arthur menggelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa. Hanya terlalu banyak pikiran. Tugas kuliah.”

Jasmine menghela napas. Bukan jawaban itu yang ingin ia dengar. Ia ingin lelaki bermata biru itu menceritakan masalahnya. Yah, siapa tahu Jasmine bisa membantu. Lagipula, seharusnya Arthur tidak perlu menutupi apa-apa lagi. Mereka ‘kan sudah menjalin hubungan selama setahun.

Sejujurnya, ini adalah sifat Arthur yang menjengkelkan. Jasmine merasa bahwa Arthur masih belum sepenuhnya percaya pada gadis itu. Arthur terlalu tertutup mengenai masalahnya. Padahal, Jasmine sama sekali tidak pernah menutup-nutupi masalahnya.

Bukan hanya itu sifat menjengkelkan dari Arthur. Lelaki bermata biru itu sering tiba-tiba pergi karena urusan mendadak.

“Jasmine?”

“Ya?”

“Bisakah kita makan lain kali saja? Temanku baru saja mengirim pesan. Penting.”

Jasmine menghela napas. Lagi. Tuh, kan benar. Sekarang apa? Arthur akan pergi meninggalkannya.
Dua sifat itu memang benar-benar menjengkelkan. Sangat-sangat menjengkelkan. Tapi di balik sifat menjengkelkannya itu, Arthur selalu berhasil membuatnya jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi.

Ketika Jasmine sedang ketakutan di malam hari misalnya, Arthur akan meneleponnya dan membiarkan gadis itu mengoceh sepuasnya di telepon. Sampai gadis itu tertidur, baru Arthur akan mematikan telepon.

Ketika mobil Jasmine sedang mogok misalnya, dan Jasmine terpaksa harus menaiki kendaraan umum, Arthur akan menanyakan di mana Jasmin lalu beberapa menit kemudian lelaki itu akan datang dan mengantarnya.

Arthur bukanlah tipe laki-laki yang selalu mengungkapkan kata cinta, ataupun laki-laki yang suka memberikan bunga pada kekasihnya. Memberikan kejutan pada saat Jasmine ulang tahun? Jangan harap. Lelaki itu justru lupa bahwa kekasihnya ulang tahun. Arthur bukanlah pria yang seromantis itu.
“Jasmine, kau tak apa, kan?”

Jasmine mengangguk. Yah, walau sebenarnya ia tidak ingin ditinggal oleh Arthur. Tapi gadis itu tahu diri. Mungkin saja urusan Arthur itu jauh lebih penting dibandingkan dengan makan malam dengannya. Jasmine tidak boleh egois.

“Baiklah. Aku pergi dulu ya, Ana!”

Ana?

“Ehm, maksudku Jasmine.” Arthur kemudian menarik ujung-ujung bibirnya. Lelaki itu kemudian pergi meninggalkan Jasmine.

Ana itu siapa? Jangan-jangan, Arthur sedang dekat dengan gadis lain. Tapi setahu Jasmine, teman perempuan Arthur tidak ada yang namanya Ana. Ah, tapi siapa tahu saja.

***

Jasmine menempelkan ponsel ke telinganya. Tidak, tidak. Jasmine tidak sedang menelepon Arthur. Dia menelepon Caleb—teman Arthur sekaligus lelaki yang membuat Arthur mengenal dirinya.
“Cal, kau kenal dengan Ana?” tanya gadis itu ketika dia mendengar suara halo di seberang sana.

Lelaki itu terdiam sesaat, “Ana? Maksudmu Ariana?”

“Entahlah. Tapi kemarin Arthur memanggilku ‘Ana’.” Jelas Jasmine.

“Arthur tidak pernah cerita tentang Ana?”

Gadis itu menggeleng, “Tidak. Ada apa dengan gadis itu?”

“Kurasa kau harus mengetahui hal ini. Ariana adalah mantan kekasih Arthur sebelum dirimu, sekaligus cinta pertama Arthur.”

“Kenapa mereka putus?”

“Ariana meninggal karena kecelakaan.”

“Kapan?”

“Setahun sebelum kau menjadi kekasihnya.”

Hati Jasmine mencelos. Kenapa Arthur tidak pernah menceritakannya? Entah kenapa tiba-tiba saja dada Jasmine terasa sesak.

“Terimakasih, Cal.”

Gadis itu kemudian menutup teleponnya dan meletakkan ponselnya di kasur.

***

“Jasmine, maafkan aku.” Lelaki bermata biru itu tersenyum pada gadis di hadapannya.

“Tapi, kenapa tiba-tiba?” Gadis yang dipanggil Jasmine mengeluarkan buliran bening dari sudut matanya.

“Apa semua karena Ana?” Jasmine bertanya.

Kening lelaki itu berkerut, “Darimana kau tahu soal Ana?”

Jasmine menggeleng, “Tidak penting aku tahu darimana. Ini semua pasti karena Ana, kan?”

Arthur tidak menjawab pertanyaan gadis di hadapannya, “Maafkan aku, Jasmine. Maaf.”

“Kau jahat.” Tangan Jasmine mendarat di pipi Arthur. Gadis itu kemudian pergi meninggalkan kekasihnya. Ralat. Mantan kekasihnya.

***

“Ini bahkan belum ada seminggu.” Gadis itu tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. “Kau benar-benar pergi, Arthur.” Jasmine mengusap air matanya. Ia lalu meletakkan sebuket bunga yang beberapa saat lalu ia beli.

***

“Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?”  Lelaki bermata biru itu bertanya pada gadis berambut cokelat. Gadis yang baru saja menabraknya.

Gadis berambut cokelat itu menatap dalam-dalam wajah lelaki di hadapannya. Entah mengapa hatinya bergetar saat melihat wajah itu. Wajah yang seolah tak asing. Siapa?

“Kau Ariana, bukan?”

Gadis itu menggeleng. Namanya memang bukan Ariana. Tapi ia merasa tidak asing dengan nama itu.

“Baiklah.” Lelaki bermata biru itu berjalan meninggalkan gadis itu.

Meskipun lelaki itu sudah pergi, Gadis berambut cokelat itu masih berusaha mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu dengan lelaki itu.

Ah! Sekarang dia mengingatnya. Gadis itu berbalik, ia kemudian berlari mengejar lelaki itu.

***

Gadis berambut cokelat menyentuh pundak lelaki yang sejak tadi dikejarnya.

“Ada apa?” Lelaki bermata biru menoleh.

“Kau Arthur, kan?”


Lelaki bermata biru menarik ujung-ujung bibirnya. Membentuk sebuah senyuman. Ia bahagia. Kematiannya tidak sia-sia.