Review: The K2



Genre: Action, melodrama, politics Rate:9/10

Mantap! Ini sih bagus banget! Suka yang begini. Action dapet, romance dapet. disuruh nebak-nebak dan rada mikir sih. Tapi nggak semikir signal. Hehe! Suka banget sama Ji Chang Wook dan Yoona! Bikin sedih jugaa! Suka banget! Sangat recommended! Bahagia, sedih, marah, kesel pokoknya emosinya dimainin bangetlah.

Review: Signal (2016)



Genre: Fantasy, crime, thriller Rate:8,9/10

Signal itu tuh drama yang menceritakan tentang polisi di masa depan, bisa berkomunkasi dengan polisi di masa lalu. Terus, akhirnya mereka berdua bekerja sama buat mecahin kasus. Menurutku, ini bagus! Bikin penasaran dan bertanya-tanya mulu tiap episode. Bikin nebak-nebak. Seru. Lumayan menguras otak. Mantep banget pokoknya. Sangat recommended! Apalagi penikmat drama yg pake 'mikir'. Ini adalah drama yang buat aku jatuh cinta sama drama thriller.

Review: Remember (2015 - 2016)


Genre: Legal drama, thriller

Rating: 9/10

Ini Bagus parah! Perjuangan banget, bikin geregetan, sedih juga. Pokoknya mengaduk-aduk emosi banget. Terus, aku juga suka sama endingnya! Bikin gagal move on. Endingnya itu antara bahagia dan sedih. Realistislah pokoknya, nggak terlalu maksa, aktingnya gausah diragukan lagi lah. Sangat recommended!

Review: Doctors (2016)


 

Genre: Medical Drama, Romance.

Rating: 6,5/10

Aku nggak terlalu suka, sih. Awal-awal tuh emang seru. Tapi makin ke belakang tuh makin bosen, nggak tahu kenapa. Jujur aja, aku bertahan nonton karena pemainnya. Alurnya terlalu lambat menurutku, haha sorry :( tapi aku suka sih bagian operasi-operasinya. Kalau yang gampang bosen sangat tidak recommended!

Review: Page Turner (2016)



Genre: Musikal

Rating: 8,2/10

Ini tuh menceritakan tentang perjuangan seorang pianis dan seorang anak yatim. Perjuangan anak muda yang di highlight di drama ini bikin aku suka! Meskipun cuma mini drama, tapi drama ini punya pesan yang cukup bermakna.

Review: Descendants of The Sun (2016)


Genre    : Action, Romance.
Rating    :8/10.
Menurutku ya, ini baguss! Tapi nggak BAGUS BANGET! Walaupun ya, jujur aja aku agak ngerasa aneh sama love at the first sightnya song song. Tapi suka jalan ceritanyaaa! Buat yang suka baper-baperan, sangat recommended!

 

Review Drama: Moorim School

 


Genre      : Fantasy, Action, Romance Rating     : 7,5/10

Konfliknya mayan. Nonton karena ada hyunwoo & hongbin awalnya. Tapi akhirnya suka sama ceritanya. Agak mikir, tapi nggak berat-berat amat. Lumayan, tapi kurang recommended.

[Fanfiction] Z for Zombie

Image result for eunha jungkook moodboard





“Kau yakin bisa melakukannya?” tanya Jungkook menatap Eunha ragu-ragu. Lelaki itu menatap Eunha dengan khawatir, sementara gadis di hadapannya itu mengangguk mantap.

“Kau bisa menggunakan senjatamu, kan?” tanya Jungkook lagi.

Senjata yang dimaksud olehnya adalah sebuah pistol yang digenggam oleh Eunha. Pistol yang berisi vaksin dan dapat menyembuhkan penyakit zombie. Jangan tanya Jungkook soal bagaimana cara membuat vaksin tersebut karena ia tidak tahu. Itu bukan tugasnya. Itu adalah tugas para ilmuan yang bekerja siang dan malam di laboraturium.

Tugas Jungkook adalah langsung terjun ke lapangan. Membasmi virus zombie yang sudah seminggu ini menyebar dengan pesatnya.

“Iya, aku bisa. Kau jangan meragukanku, oke?” Eunha terlihat mantap. Tapi Jungkook sangat ragu-ragu. Pasalnya, hari ini adalah hari pertama Eunha menjadi partnernya, sekaligus hari pertama Eunha menjalankan tugasnya. Bagaimana ia tidak ragu?

“Ayolah, Jungkook. Kalau kita tidak berpencar bagaimana para zombie bisa lebih cepat dibasmi?” tanya Eunha. “Lagipula tempat ini tidak terlalu berbahaya.”

Jungkook masih diam.

“Aku sudah menggunakan baju pelindung. Jadi akan aman, oke?”

Jungkook akhirnya mengangguk. Mereka memutuskan untuk berpencar. “Kau lantai dua dan tiga. Aku basement dan lantai satu.” Jungkook memberi perintah. Eunha mengangguk dengan semangat.

Mereka kemudian benar-benar berpencar. Eunha berjalan dengan pelan sembari memandangi sekitar—siap siaga jika tiba-tiba ada zombie menyerang, ia tidak habis pikir bahwa pusat perbelanjaan yang biasanya ramai penuh dengan orang berlalu lalang. Kini sepi sekali. Barang-barang yang biasanya tertata rapi di stan-stan, kini berhamburan ke mana-mana. Mulai dari baju, buku, sepatu, dan banyak barang-barang lain berserakan di mana-mana.

Ck, semua ini ulah zombie zombie aneh itu.

Kalau saja ini hari yang normal, maka orang-orang akan berusaha untuk mencuri barang-barang tersebut. Yah bagaimanapun meskipun berantakan, barang di pusat perbelanjaan masih sangat layak pakai—walau beberapa ada yang rusak, sih.

Tapi syukurlah orang-orang tidak melakukan itu. Mereka sepertinya masih bisa berpikir normal, dan lebih menyayangi nyawa dibanding harta.

Brak!

Eunha terlonjak, ia langsung menoleh dan menemukan ada zombie yang baru saja menjatuhkan rak. Dengan gesit, Eunha langsung mengarahkan pistolnya pada zombie tersebut dan menembakkan pelurunya. Tapi bukannya mengenai zombie  tersebut, peluru itu justru mengenai dinding di sampingnya.

Sial. Salah sasaran.

Eunha mencoba lagi, lagi, dan lagi sampai akhirnya pada peluru ke empat ia tidak meleset dan berhasil menembak zombie tersebut. Terlalu fokus pada satu zombie membuat gadis itu tidak sadar bahwa sedari tadi ia diperhatikan oleh beberapa pasang mata yang sedang sembunyi.

Syukurlah aku berhasil.

Eunha bernapas lega.

Hei. Hei. Jung Eunha!” teriak suara dari seberang sana.

Jawab aku! Kau masih hidup kan?

“Tenang saja. Semua aman, kok.” Kata Eunha tenang.

Kau yakin?” tanya Jungkook meragu.

“Tentu sa—“ “AAAAA” Eunha menjerit.

Tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menarik baju pelindungnya. Oke, ralat tidak hanya sebuah, tapi ada dua buah. Eunha merasakan ada tarikan di kanan kirinya. Gadis itu berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan tarikan itu, tapi tidak berhasil. musuhnya terlalu kuat. Bahkan kini ada zombie  yang tiba-tiba muncul di depannya, dengan tangan yang menempel pada pelindung kepalanya. Zombie itu mendorong Eunha dengan sekuat tenaga, sampai membuat gadis itu jatuh ke belakang.

Sepertinya aku akan mati.

Eunha, Eunha!” Eunha bisa mendengar suara di seberang sana, tapi ia tidak cukup mampu untuk membalasnya. Ia masih berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkraman tiga zombie sialan ini. Gadis itu akhirnya sembarang menarik pelatuk, yang tentu saja tidak membuat perubahan apa pun karena pelurunya hanya mengenai atap, bukannya zombie di depannya itu.

Gadis itu berusaha menggerakan tangannya, mencoba agar bisa menembak zombie di depannya. Tapi sayang sekali, tenaga Eunha tidak sekuat itu. Baju pelindungnya sudah terburu sobek karena ditarik dari segala arah.

Sial sudah.

Kini ia merasakan ada sesuatu yang menggigit tangannya.

“GAME OVER!”

“SIALAN!” Jungkook mengumpat dari bilik sebelah. Lelaki itu berdiri agar bisa melihat Eunha dengan jelas.

Sang gadis hanya meringis, sambil menunjukkan peace sign.

Jungkook berdecak, “Sudah kubilang kan jangan jauh-jauh. Baru juga berapa menit.” Keluh  Jungkook kesal.

“Ya maaf! Aku kan baru main pertama kali! Memangnya kau waktu pertama kali bermain langsung jadi ahli?” protes Eunha.

“Tentu saja! Aku kan Jeon Jungkook.”

Eunha mencibir. “Sudahlah, ayo kita makan saja. Aku lapar.”

“Makan saja sendiri. Aku masih mau main.”

“Baiklah, padahal aku berniat untuk menraktir.”

Jungkook berdeham, “Tiba-tiba aku merasa lapar. Ayo makan saja!”

[Fanfiction] Y for Yes or Yes?


Related image

Sebelumnya, baca dulu ini, ya.

Eunwoo memandang gadis itu dari jauh. Sudah beberapa bulan terakhir ini gadis itu mencuri perhatiannya. Yah, ini semua akibat dari kue yang gadis itu berikan melalui Sejeong. Pertemuan yang membuat Eunwoo dengan Sejeong menjadi canggung setengah mati—sampai sekarang. Untung saja Sejeong tidak pernah mengungkitnya, dan keduanya bersama-sama menyetujui bahwa tidak pernah terjadi apa-apa saat pertemuan itu. Lagipula Sejeong juga tidak enak dengan Chaeyeon, kalau sampai gadis itu bilang bahwa Eunwoo sebenarnya menyukainya, bukan Chaeyeon.

Gadis yang ditatap Eunwoo sepertinya sadar kalau ia diperhatikan, membuat ia menoleh ke arah lelaki itu. Buru-buru Eunwoo langsung mengalihkan pandangan, dan kembali menatap layar laptopnya, mengurusi tugas-tugas yang harus ia kerjakan.

“Kau tadi memerhatikan siapa sih?” tanya Mingyu yang entah sejak kapan ada di sebelahnya.

“Hah?” Eunwoo seperti tertangkap basah, lelaki itu langsung menggelengkan kepalanya. “Aku tidak memerhatikan siapapun.”

“Benarkah?” tanya Mingyu menggoda.

Eunwoo hanya mengangguk, sambil menatap laptopnya. Pura-pura asyik mengerjakan tugas. Padahal sih, Eunwoo sama sekali tidak bisa fokus. Pikirannya melayang ke mana-mana. Teringat beberapa hari lalu ia berpapasan dengan Chaeyeon, dan gadis itu tersenyum dengan manisnya.

Sialan. Kenapa sih Eunwoo tidak menyadari sosok Chaeyeon dari dulu saja?

Kenapa baru sekarang?

Yah, bagaimana ya. Dulu di mata Eunwoo, Chaeyeon hanya menjadi bayang-bayang Sejeong. Maksudnya, Eunwoo hanya melihat gadis itu sebagai teman gadis yang ia sukai, tidak lebih. Tapi semua itu langsung berubah setelah pemberian roti itu.

Euwnoo jadi lebih penasaran dengan Chaeyeon. Lelaki itu jadi sering memerhatikan Chaeyeon dari jauh, mencari tahu dia berada di jurusan apa, ikut organisasi apa, kesukaannya apa, jadwalnya bagaimana, dan banyak hal. Semakin banyak yang ia tahu tentang Chaeyeon, membuat lelaki itu semakin tertarik, atau Eunwoo sudah jatuh cinta?

Tapi ada satu hal yang membuat Eunwoo bingung. Kenapa Chaeyeon tidak pernah menanyakan tentang roti itu lagi? Atau jangan-jangan Chaeyeon sudah tidak menyukainya lagi? Apa kata I love you yang tertulis di roti itu sudah tidak berlaku lagi?

Inikah yang dinamakan cinta datang terlambat?

Ahh, Eunwoo frustasi sendiri. Tanpa sadar, Eunwoo mengacak-ngacak rambutnya.

“Kau kenapa?”

Bodoh. Kenapa dia tidak bertanya kepada ahlinya?

“Mingyu, aku ingin bertanya sesuatu.”

“Sepertinya kau salah orang. Kau aja frustasi dengan tugas itu. Apalagi aku?”

“Tidak, tidak. Ini bukan tugas. Yang ini kau pasti tahu.” Eunwoo berkata dengan yakin, membuat Mingyu menjadi penasaran.

“Apa?”

“Jadi begini, aku menyukai seseorang—Oke, tolong jangan heboh.” tambah  Eunwoo yang melihat ekspresi kaget Mingyu.

“Wah, Kira-kira siapa ya gadis cantik yang berhasil menarik perhatian seorang Cha Eunwoo?”

“Diam dulu, belum selesai.”

Mingyu mengangguk, ia langsung membungkam mulutnya.

“Orang itu pernah menyatakan perasaan denganku—lewat temannya—tapi sekarang gadis itu tidak menunjukkan bahwa ia menyukaiku lagi. Aku harus bagaimana?”

Mingyu terlihat berpikir.

“Aku menyukainya baru-baru ini. Setelah tahu bahwa dia menyukaiku. Ehm, kau tahu maksudku kan?”

“Gadis itu sudah punya kekasih mungkin?”

Eunwoo menggeleng. “Kalau sudah, mana mungkin aku menanyakan ini padamu, Kim Mingyu.”

Mingyu mengangguk-angguk. Ia seolah sangat mengerti keadaannya, dan terlihat sedang berpikir. Lelaki itu kemudian memberi saran pada Eunwoo. Saran yang membuat Eunwoo langsung menggelengkan kepalanya. “Kau gila ya?”

“Lakukan saja, percayalah.” Mingyu terlihat mantap.

***

Eunwoo  benar-benar menuruti saran Mingyu. Pokoknya, jangan sampai gagal. Kalau gagal—tidak, Eunwoo tidak mau gagal. Ia harus berhasil. Doakan saja semoga Eunwoo berhasil, ya.

Lelaki itu kini berdiri di depan rumah Chaeyeon, setelah menenangkan diri dan mempersiapkan mental, Eunwoo langsung memencet bel rumah gadis itu. Sambil menunggu, lelaki itu mengetuk-ngetukkan kakinya ke tanah—panik.

Pintu terbuka, seorang laki-laki yang sepertinya seumuran dengannya membukakan pintu. Sepertinya Eunwoo tahu. Ini adalah kembaran Chaeyeon yang sering disebut-sebut itu. Jung Jaehyun kalau tidak salah, sih.

“Ada perlu apa?” tanya Jaehyun ramah.

“Ada perlu dengan Chaeyeon.”

“Oh, sebentar ya aku panggilkan. Masuk dulu.”

Eunwoo mengangguk, ia tersenyum canggung sambil melangkahkan kaki memasuki ruang tamu. Saking geroginya, kakinya sampai gemetar. Eunwoo sekarang jadi memaklumi jika para perempuan yang ingin menyatakan perasaan padanya bertingkah aneh.

Ternyata begini rasanya.

Serius, perasaannya lebih tidak karuan dibanding ketika dengan Sejeong. Mungkin karena dia sudah sering bertemu dengan Sejeong dan sering mengobrol dengannya? Kalau dengan Chaeyeon kan  jarang. Hampir tidak pernah malah.

“Ada apa ya?” tanya Chaeyeon entah datang darimana. “Eh duduk dulu,” gadis itu duduk, diikuti dengan Eunwoo yang duduk di depannya.

Eunwoo berdeham. Ia kemudian meletakkan kotak yang sejak tadi dibawanya di atas meja. “Aku hanya ingin memberikanmu ini. Dibuka sekarang, ya.”

“Apa ini?” tanya Chaeyeon sembari membuka kotak itu. Ia terlihat sedikit terkejut melihat isinya.
Tenang, isinya bukan bom atau barang yang aneh-aneh kok. Isinya adalah kue. Sama seperti Chaeyeon, Eunwoo menggunakan taktik yang sama. Eunwoo menuliskan sesuatu di atas kuenya itu. Kalian tahu apa tulisannya?

Would you be my girlfriend?

Yes or Yes?

“Bagaimana?” tanya Eunwoo dengan suara gemetar.

Sialan.

“Bagaimana aku bisa memilih jika hanya ada satu pilihan?”

“Jadi?”

Chaeyeon mengangguk malu-malu.

[Fanfiction] X for XXX


Image result for jaehyun moodboard


Bagi seorang Jung Jaehyun, mendapat sesuatu hal dari penggemar rahasia adalah hal biasa. Tapi kali ini berbeda. Sangat berbeda. Ini bukan soal apa yang dia dapatkan—ia hanya mendapat makanan biasa, yang setiap hari selalu diletakkan di dashboard motornya. Tapi ini soal siapa yang menaruh makanan. Oh astaga, Jaehyun bahkan tidak percaya dengan penglihatannya sendiri sekarang.
Jadi begini ceritanya.

Sudah berulang kali Jaehyun mendapat makanan yang diletakkan di dalam kotak bekal, di mana kotak bekal tersebut dimasukkan ke totebag, dan totebagnya digantung di dashboard motor Jaehyun. Awalnya Jaehyun ragu-ragu untuk memakan bekal tersebut. Tapi karena aroma dari makanan itu selalu menggoda, maka Jaehyun mencobanya. Di luar dugaan, makanan tersebut sangat enak. Hal itu membuat Jaehyun penasaran siapa yang mengiriminya.

Oh iya, dalam totebag itu selalu ada surat yang isinya kurang lebih begini;

Semoga kau suka. Dan aku berharap kau tidak perlu tahu siapa aku.
Xxx

Selalu begitu. Karena penggemar rahasianya ini menamai dirinya dengan xxx, maka Jaehyun juga menyebutnya demikian. Diberi surat begitu, Jaehyun makin penasaran dengan siapa itu xxx. Akhirnya Jaehyun menceritakan semuanya pada Mingyu—teman sekelasnya—mengenai apa yang terjadi. Jaehyun meminta bantuan pada temannya itu untuk mencari tahu siapa itu xxx. Mereka berdua kemudian menyusun rencana untuk mengetahui siapa si xxx.

Setelah berdiskusi panjang, sebuah cara ditetapkan. Mereka berdua akan menyelinap ke ruang cctv, dan melihat apa yang terjadi. Dimulai dari mengambil kunci dari seseorang yang bertugas menjaga, mereka berdua menyelinap ke ruangan tersebut.

Pelan-pelan mereka berdua melihat rekaman cctv yang ada di tempat parkir. Jaehyun dan Mingyu memperkirakan bahwa xxx akan meletakkan makanannya sekitar jam perkuliahan Jaehyun dan Mingyu. Mereka kemarin masuk kelas jam sembilan sampe sebelas. Saat jam sebelas, Jaehyun sudah menerima makanan itu. Artinya si xxx meletakkan sekitar jam sembilan sampai jam sebelas.
Setelah mengutak-utik, akhirnya mereka menemukan rekaman pada jam itu. Benar saja. Seseorang  sedang meletakkan totebag di tasnya. Itu si xxx. Dan kau tahu siapa itu xxx?

“Kau yakin dia? Mungkin dia hanya meletakkan saja. Mana mungkin dia si xxx.” Kata Mingyu setelah melihat rekaman tersebut.

“Mungkin saja.” Jaehyun berusaha berpikir positif.

“Lebih baik kita tanyai saja dia.” Kata Mingyu akhirnya memutuskan.

***

“Kau xxx?” tanya Jaehyun tanpa basa-basi.

Yang ditanya hanya tersenyum, “Maaf Jaehyun terlah mengecewakanmu. Tapi yeah, aku si xxx.”

“ta-tapi— bagaimana bisa? Kau kan pacaran dengan Kim Jisoo?”

Lelaki itu hanya tersenyum. “Bisa saja. Karena aku Lee Taeyong.” Lelaki itu mendekatkan mulutnya ke telinga Jaehyun. “Aku tidak main-main soal perasaanku padamu. Apartemenku terbuka kapan saja kalau kau mau main,” Lalu menepuk bahu Jaehyun.

“Sudah, ya aku ada urusan. Dah!” seseorang bernama Lee Taeyong itu pergi begitu saja. meninggalkan Jaehyun yang masih terpaku di tempatnya ia berdiri. Otaknya masih mencerna apa yang terjadi.

[Fanfiction] W for Window


Image result for window aesthetic

Sudah genap sebulan aku dan keluargaku pindah rumah. Sudah genap sebulan juga aku selalu melihat bayangan di jendela sebelah rumah. Awalnya aku mengabaikan bayangan itu. Aku berusaha berpikir positif, mungkin indra penglihatanku yang salah. Tapi setelah aku berulang-ulang kali melihatnya, aku benar-benar tidak bisa berpikir positif lagi. Apalagi setelah mengetahui sebuah fakta mengejutkan dari tetangga sebrang, bahwa rumah sebelah itu sudah kosong bertahun-tahun.

Oke, awalnya aku berusaha untuk tidak menengok ke arah jendela itu. Tapi bagaimana bisa? Rumahku berada di paling ujung. Artinya, jika aku mau masuk ke rumah, aku harus melewati rumah itu. Dan kau tahu, jendela rumah kosong itu—yang ada bayangannya—berada di dekat pintu masuk rumahku. Yah, jadi aku seringkali tidak sengaja melihat bayangan itu.

Mengesalkan memang, terlebih lagi saat aku bercerita kepada Kak Eunwoo—kakakku—mengenai jendela itu. Lelaki itu justru menertawaiku dan meledekiku habis-habisan. Cih, dasar kakak yang menyebalkan.

“Hei, bagaimana jika kita mengecek bayangan itu?” tanya Kak Eunwoo ketika aku sedang mendengarkan musik di kamar.

Aku menggeleng, menolak. Yang benar saja?

“Ayolah, matahari masih terang, kok.”

Kak Eunwoo mematikan speaker, dan menarikku yang sedang asyik berbaring di kasur. Yah, ujungnya aku terseret juga. Karena tenaga Kak Eunwoo jauh lebih besar dari tenagaku. Jelas saja dia dengan mudah menggeretku ke luar kamar, bahkan ke luar rumah. Oh, lebih tepatnya ke depan jendela yang ada bayangannya itu.

Iya, sekarang kami berdua sudah ada di depan jendela itu. Berdiri seperti orang konyol, memandangi jendela itu, yang jelas ada bayangannya. Tapi kalian tahu apa? Bayangannya ada dua!

Astaga, selama ini aku ketakutan dengan suatu hal tak berdasar. Yang benar saja, masa aku takut dengan bayanganku sendiri?

Kami berdua kemudian tertawa karena menyadari kebodohan diriku. Tapi tawa kami berhenti ketika kami sadar bahwa dua bayangan yang ada di depan kami, tidak ikut tertawa.

[Fanficton] V for Violet

Related image



Kino membuka lemari. Betapa kagetnya dia saat mendapati hanya tersisa satu sweater yang tergantung di sana.

“Jaketku yang lain ke mana?” tanyanya bingung—lebih kepada diri sendiri.

Ah iya, dia ingat. Kemarin malam ia belum sempat ambil bajunya di tempat laundry, karena ia pulang terlalu larut akibat kerja kelompok.

Kino menghela napas, ia dilanda dilema berat. Ada dua pilihan, dan keduanya sama-sama merugikan. Pilihan pertama, ia bisa mengenakan sweater berwarna violet itu. Tapi ia harus menanggung malu bila mengenakannya. Pilihan kedua, ia bisa kedinginan jika tidak mengenakan sweater itu. Yah, bisa dibilang cuaca saat hari ini tidak terlalu hangat.

Sebenarnya pilihan pertama tidak terlalu merugikan sih. Hanya saja, ia terlalu gengsi untuk mengenakan sweater itu. Bagaimana tidak, sweater itu adalah couple sweater  dengan mantan gadisnya, yang kebetulan juga sekelas dengannya di mata kuliah hari ini. Sialan, memang.

Kino berdecak, lelaki itu dengan terpaksa mengambil sweater itu dan mengenakannya.
Tidak ada pilihan lain, ia tidak mau kedinginan. Ia juga tidak memiliki waktu cukup untuk mengambil jaket-jaket lainnya di tempat laundry. Hari ini ada Quiz. Ia tidak mau terlambat.

Hm, tidak apa-apalah. Toh ini hanya sweater polos berwarna violet. Tidak ada motif atau apa pun. Dan yang lebih penting lagi, sweater ini dibeli menggunakan uangnya. Bukan pemberian dari sang mantan.

***
“Kau balikan?” tanya Wooseok saat Kino hendak masuk kelas. Lelaki jangkung itu berdiri di depan pintu, menghalangi Kino yang hendak masuk kelas.

“Hah?” Kino menatap Wooseok, bingung. Ia menoleh ke belakang. Siapa tahu yang dimaksud bukan dia. Tapi ternyata tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Lorong sepi. Meskipun ada orang, posisinya jauh. Itupun sepertinya kakak tingkat.

Wooseok mengulangi pertanyaannya lagi. Kali ini menatap Kino dengan penuh penasaran, “Kau balikan?”

Kino menunjuk dirinya, “Aku?”

Wooseok memutar bola mata, “Iya, bodoh. Siapa lagi memangnya? Masa aku berbicara dengan angin?”

“Balikan dengan siapa?” Kino terlihat masih bingung.

Wooseok gemas. Lelaki jangkung itu menarik Kino supaya berdiri di depannya. Lalu ia menunjuk seseorang yang menggunakan sweater yang sama dengan Kino.  Yah, siapa lagi kalau bukan mantan kekasih Kino?

Elkie—teman sekelas mereka—yang kebetulan melihat arah tangan Wooseok yang sedang menunjuk seseorang, langsung paham dengan apa yang terjadi. Perempuan itu segera membuat keributan.

“WOOO! Yeeun balikan!” teriak Elkie tanpa tahu malu.

Semua mata langsung tertuju pada gadis yang sejak tadi sedang bermain ponsel itu. Yeeun yang namanya dipanggil, langsung kaget dan bingung mencerna apa yang terjadi.

“Lihat! Bajunya saja sudah couple!” kini Elkie menunjuk Kino.

Sial, ingin rasanya Kino kabur dari situ sekarang juga. Sumpah, ia malu sekali. Lagipula kenapa sih, Yeeun juga harus memakai sweater itu juga? Di hari yang sama pula.

Hampir saja Kino mengelak, tapi ia terpaksa membungkam mulutnya lagi karena sang dosen sudah datang. Siap-siap saja, nanti pasti ia dan Yeeun akan menjadi bulan-bulanan.

[Fanfiction] U for Umbrella

Related image

Hujan tiba-tiba berhenti. Lebih tepatnya, hujan di atas kepalaku. Sementara di depan sana titik-titik air masih berjatuhan.  Merasa janggal, aku mendongak. Ternyata ada sebuah payung yang melindungi kepala. Ah, pantas saja.

“Kenapa hujan-hujanan?” tanya Cha Eunwoo—sang pemilik payung— kini berdiri di sebelahku.

“Tidak punya payung.” jawabku asal. Padahal, itu sama sekali bukan jawaban yang tepat. Akan kuceritakan jawaban yang sesungguhanya. Alasan aku membiarkan air hujan membasahi tubuhku adalah untuk menutupi fakta bahwa aku sedang menangis. Kau tahu kan, di saat hujan air mata menjadi tidak terlihat. Menyatu dengan titik-titik air yang berjatuhan dari langit.

“Bohong.” Cha Eunwoo menyahut.

“Bohong apanya?”

“Kau menangis.” Katanya blak-blakan.

“Tidak.” Aku mengelak. Tentu saja aku tidak ingin Cha Eunwoo, lelaki yang selalu menjadi teman debat, saingan, sekaligus tetangga juga, dan sahabat—ugh, aku sungkan sekali menyebutnya begitu, tapi aku akui kami cukup akrab—mengetahui bahwa aku sedang menangis. Gengsi.

Karena bagaimanapun juga, aku adalah Jung Chaeyeon. Moodmaker di antara teman-temannya. Kan tidak lucu kalau aku ketahuan menangis. Apalagi masalahnya sepele. Hanya karena aku gagal menjadi MC di acara perpisahan. Tuh, kan. Sepele.

Yah, mungkin bagi kebanyakan orang ini adalah masalah sepele. Tapi aku sudah berlatih setengah mati. Bahkan mengenyampingkan ujian sekolah. Ini adalah kesempatan terakhirku. Orang tuaku tidak ingin melihatku naik ke atas panggung, hanya kali inilah mereka mengijinkan. Mereka lebih memilih aku mendapat nilai tinggi dan menjadi salah satu siswa yang namanya disebut ketika pembacaan peringkat paralel.

Sayang sekali, kesempatan pertama dan terakhir, menghilang begitu saja.

“Hm yah, terserah kau saja, Jung Chaeyeon.”

Baru saja aku hendak  berbicara, Cha Eunwoo memotongnya.

“Padahal kalau kau mau bercerita, aku bisa jadi pendengar yang baik, loh.”

“Cih. Sudah sana pulang, ini rumahmu!”

Aku baru saja hendak mendorong lelaki itu, tapi dia sudah menghindar terlebih dahulu.

Oh iya, sebagai saingan, Cha Eunwoo memang benar-benar sulit untuk dikalahkan. Ia selalu berada di peringkat satu, dan aku selalu menjadi peringkat dua. Cha Eunwoo adalah nama yang selalu disebut oleh kedua orang tuaku. Untuk menjadi bahan pembanding dengan prestasi yang kuraih.

Pernah sekali aku berada di peringkat dua. Itu pun karena dia fokus pada olimpiade di luar negeri sehingga mau tak mau ia banyak absen.

“Aku mau mengantarmu.”

Mengantar? Aku tidak salah dengar?

“Hah?”

“Ayo jalan. Sebelum aku berubah pikiran.”

Yasudahlah. Aku sedang tidak ingin berdebat. Aku ingin cepat pulang dan beristirahat.

“Chaeyeon,”

“Hm?” jawabku cuek.
“Sepertinya semester depan kau akan peringkat satu.”

Dahiku mengernyit. Sungguh aku heran. Ini seperti bukan Cha Eunwoo. Yang kutahu, lelaki di hadapanku ini sangat ambisius. Ia tidak ingin julukan ‘si peringkat satu’ berganti padaku. Aneh. 

Kenapa dia tiba-tiba bilang seperti ini?

“Kalau aku peringkat satu. Kau bagaimana?”

Bukannya menjawab. Lelaki itu justru berhenti. Dan berkata, “Nah. Sudah sampai.” Ia melihat ke arahku, “Sana masuk. Aku mau pulang.”

Aku mengangguk. Lalu berjalan mendekati pagar. Baru saja aku mau membuka pagar, lelaki itu memanggil.

“Makasih, ya,” ucapnya sembari tersenyum. Entah kenapa, aku merasa senyumnya aneh. Dan lagipula, bukankah seharusnya aku yang mengucapkan terimakasih? Kenapa jadi dia? Ah, sudahlah tidak usah dipikirkan.

“Oh iya,” Cha Eunwoo memanggil lagi.

“Apa lagi, sih?” tanyaku agak kesal.

“Ini,” Lelaki itu melipat payungnya, lalu memberikannya padaku.
Sungguh, aku sama sekali tidak mengerti dengan Lelaki di hadapanku ini. Kenapa ia memberikannya padaku? Bukankah ini artinya dia akan kehujanan?

“Sudah, terima saja. Anggap saja kenang-kenangan.” Setelah berkata begitu, Cha Eunwoo langsung 
pergi. Ia berlari menembus hujan.

Meskipun bingung, aku tetap menerima payung itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.






Baru saja aku masuk, ibu langsung berlari memelukku. Kejadian Cha Eunwoo berterimakasih dan mau mengantarku pulang saja sudah aneh. Ini lagi. ibuku tiba-tiba memelukku, dan yang lebih aneh semua anggota keluargaku kumpul di ruang tamu. Mereka menatapku dengan tatapan iba. Seolah-olah aku baru saja terkena musibah.

Kenapa sih? Apa jangan-jangan mereka tahu kalau aku gagal jadi MC?

“Ibu kenapa?”

Bukannya menjawab, Ibu hanya mengelus punggungku.

“Eunwoo kecelakaan di depan sekolah. Tadi keluarganya mengabarkan kalau ia meninggal.”

TU-
TU-

Tunggu, lalu ini payung siapa?

Kakiku tiba-tiba terasa lemas. Setelahnya, semua menjadi gelap.

[Fanfiction] T for Tahun Baru


Image result for new year 2019

Jinhwan
Tahun baru, tidak ada yang spesial bagi seorang Kim Jinhwan. Lelaki itu menghabiskan waktu-waktu di akhir tahunnya dengan membantu kakaknya di kafe. Sebenernya kakanya menyuruhnya untuk istirahat, tapi Jinhwan menolak keras. Lelaki itu merasa bosan sehingga menwarkan diri untuk membantu kakaknya di kafe yang sedang ramai-ramainya.

Jinhwan pikir, ia akan membantu. Tapi yang ada ia justru banyak melamun. Banyak pasangan yang datang ke kafe membuatnya teringat akan masa lalunya. Masa-masa indahnya ketika ia masih bersama dengan sang gadis—mantan kekasihnya. Tepat setahun yang lalu, Jinhwan menyatakan perasaannya di sini. Yang langsung dibalas anggukan oleh sang gadis. Berujung mereka menjalin hubungan, yang sayang sekali tak lama. Hanya beberapa bulan.

“Oi,” Kakak Jinhwan mengibaskan tangannya di depan lelaki itu.

“Apa?” lelaki itu menyadarkan diri dari lamunan.

“Pulang saja, sana. Di sini kau menyusahkan.” Omel kakaknya.

Baru saja lelaki itu akan bicara, tapi kakaknya sudah mendorongnya untuk keluar. Jinhwan hanya menghela napas, mengambil jaketnya sebelum keluar dari kafe.

Yunhyeong
Tahun baru kali ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Oke, mungkin berbeda karena Yunhyeong mengunjungi tempat yang berbeda. Tapi tetap saja, ia pergi dengan orang yang sama. Kalau kalian pikir itu adalah kekasih Yunhyeong, jawabannya salah besar. Itu bukan kekasihnya. Melainkan adiknya.

Sudah jadi kebiasaan bagi kakak-adik Song, untuk menghabiskan waktu bersama saat malam tahun baru. Bukan karena mereka tidak punya pacar, tapi ya—kalau Yunhyeong sih emang tidak punya—karena kakak-adik Song itu jarang bertemu, dan malam tahun baru adalah saat keduanya libur, jadi sengaja mereka habiskan waktu bersama. Yah, walaupun awalnya pacar dari eunji—adiknya itu mengomel, tapi setelah Yunhyeong menjelaskan, lelaki itu mau mengerti.

“Dek, fotoin.”

Eunji berdecak, “Astaga, lagi?”

“Bukankah baru sedikit?”

“Baru sedikit apanya? Udah sepuluh kali loh, Kak.”

“Udah, cepet.”

“Iya, iya.”

Yah, kira-kira begitulah malam tahun baru Song Yunhyeong dan Song Eunji.

Bobby
Tahun baru kali ini sangat menyenangkan untuk Bobby. Bagaimana tidak, tahun ini dia mendapat tambahan anggota keluarga. Si kecil yang baru lahir beberapa bulan lalu. Bukan, bukan. Bobby masih lajang, kok. Itu anak dari kakaknya. Dan Bobby sangat senang bermain dengan keponakannya itu. Sungguh, anak bayi memang sangat menggemaskan.

Bobby saat ini sedang menunggui keponakannya. Sementara si pemilik bayi, justru kencan dan menitipkan itu pada Bobby. Bobby juga tidak keberatan, lagipula ia menyukai bayi itu. Dan juga, ia tidak mempunyai seseorang yang bisa diajak pergi. Jadi, menunggui bayi selama malam tahun baru, bukanlah masalah. Toh, dia tidak sendirian juga. Ibunya ada di rumah dan siap membantu.

“Maaaa, si adik nangisnya nggak mau berhenti!” teriak Bobby.

“Iya, iya. Sabar, sayang. Ini sedang mama ambilkan susunya.”

Hanbin
Malam tahun baru tidak ada yang spesial bagi seorang Kim Hanbin. Sama seperti malam-malam biasanya, lelaki itu berada di tempat kerjanya, memikirkan nada-nada mana yang cocok untuk lagu barunya. Atau, membuat lirik untuk alunan musik yang telah dibuatnya bersama Raesung.

Tapi kali ini, tidak ada Raesung. Lelaki itu hanya sendiri di studionya. Si Raesung sedang sibuk merayakan ulang tahunnya, sekaligus hari pertamanya ia bisa minum alkohol. Wajar saja ia tidak di sini.

Hanbin mendesah, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya pilihannya untuk bekerja di malam tahun baru merupakan kesalahan besar, karena saat ini otaknya sedang buntu. Kalau tahu begini, lebih baik ia mengikuti ajakan ibunya untuk merayakan tahun baru bersama keluarga saja. 

Yah, mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur.

Donghyuk
Tak berbeda jauh dari Hanbin, Donghyuk juga menghabiskan malam tahun barunya di dalam gedung YG Entertainment. Selain karena memang tidak ada yang bisa diajak pergi, ia juga ingin melancarkan gerakan koreografinya, karena sebentar lagi mereka akan comeback.

Selain itu, ia di sini tidak sendirian.

“Kau bisa pulang, kok kalau lelah.” Kata Donghyuk setelah meneguk sebotol air dingin.

Yang diajak bicara menggeleng, “Aku bosan. Dorm sepi. Lagipula melihatmu berlatih bukanlah hal yang buruk.”

Donghyuk hanya tersenyum. Sebenarnya, ia senang sih gadis itu menemaninya di sini.

Gadis itu menghembuskan napas panjang, “Seandainya saja grupku segera comeback. Pasti aku juga latihan. Bukannya hanya memandangimu seperti ini.”

“Memangnya grupmu belum ada tanda-tanda comeback?”

Gadis itu menggeleng, “Habis ini mereka akan mengeluarkan solo milik Rose. Entahlah aku kapan mendapat giliran. Mungkin yang terakhir. Atau mungkin tidak sama sekali.” Gadis itu mengangkat bahu.

“Daripada kau bosan, bagaimana kalau kau juga ikut menarikan lagu baruku?” tanya Donghyuk hati-hati. “Tidak berguna sih ta—“

Gadis itu bangkit. “Boleh! Lagipula aku ingin mencoba gerakan baru. Ayo!”

Junhoe
Malam tahun baru seorang Junhoe sepertinya paling menyenangkan dibanding yang lain. Pasalnya, ia berjalan-jalan dengan gadisnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Rose? Mereka sekarang sedang menikmati makanan di salah satu restoran yang ada di sekitar apartement mereka. Maksudnya, gedung apartement mereka.

“Rose, kau mau pesan soju tidak?” tanya Junhoe.

Rose menggeleng, “Tidak. Aku tidak mau mengurus kau mabuk, oke?”

“Hanya satu botol.”

Rose menggeleng kuat-kuat. “Tidak. Habis ini kita juga mau lihat pesta kembang api kan?”

“Sa—“

“Sekali tidak ya, tidak, Go Junhoe.”

Uhm, sepertinya tidak terlalu menyenangkan juga, ya.

Chanwoo
Chanwoo melihat kedua temannya asyik menari di bawah kelap-kelip lampu. Mereka menyanyikan lagu sekeras mungkin, sampai-sampai membuat Chanwoo menutup telinga, lalu geleng-geleng kepala.

Untung saja ini kedap suara, kalau tidak, mungkin bisa terdengar seantero kota Seoul.

“Ayolah Jung Chanwoo! Masa karaoke hanya duduk saja, sih?” protes salah satu dari mereka—SinB.
Chanwoo hanya menggeleng, “Kalian saja.”

“Ayooo!” temannya yang lain—Moonbin—menarik paksa Chanwoo, lalu menyerahkan mic kepada lelaki jangkung itu.

Chanwoo masih diam. Ia enggan menyanyi. Bukannya apa, dia sudah bosan sekali dengan lagu ini.

Sarangeul haetdaa, uriga manaaa....”

Yah, akhirnya Chanwoo ikut menyanyi juga.



Fin

[Fanfiction] S for Shirt



Kata orang, cinta itu datang karena terbiasa. KATANYA. Tapi sepertinya kalimat itu sama sekali tidak mempan untuk seseorang. Yah, itu sih jika bersama selama dua puluh dua tahun termasuk dalam kata terbiasa.

Banyak orang di luar sana yang memiliki kisah indah dengan sahabatnya sendiri. Awalnya, orang itu akan takut untuk mengungkapkan perasaannya. Lalu dengan dukungan dari teman-teman yang lain, orang tersebut mengungkapkan perasaannya. Dan....

Ternyata sahabatnya juga memiliki perasaan yang sama.

Sungguh sebuah keberuntungan. Tapi nyatanya, hidup tidak semulus itu, bung! Faktanya, aku sudah berteman dengan seseorang sejak dua puluh dua tahun yang lalu—kami sudah saling mengenal dari bayi, bahkan. Tapi orang tersebut sama sekali tidak menganggapku laki-laki. Sialan, memang.

Padahal, aku adalah orang yang selalu ada ketika dia sedang membutuhkan bantuan. Aku adalah yang menghiburnya di saat ia sedih. Dan aku—oke, cukup. Aku tidak ingin mengumbar semua kebaikanku padanya. Aku tidak mau pamer.

Ah iya, seseorang yang kumaksud ini bernama Lalisa. Kami sudah mengenal sejak bayi karena memang orang tua kami sangat dekat. Rumah kami bersebelahan. Membuat kami sering bermain bersama dari dulu hingga sekarang.

“Bambam!” seseorang memanggil.

Wah, sangat kebetulan sekali. Orang yang sejak tadi aku sebut-sebut, ternyata datang memanggilku.
Ngomong-ngomong, aku sedang berada di teras rumah. Sambil memainkan ponsel. Yah, walau kenyataannya hanya tatapan mataku saja yang menghadap ponsel, tapi pikiranku melanglang buana ke mana-mana.

“Kau mau menemaniku, tidak?” tanya Lisa.

Tentu saja aku mengangguk. Siapa sih, yang tidak mau menemani orang yang dia suka?

“Ke mana?”

“Membeli sesuatu.”

***

“Kau lebih suka yang mana?” perempuan itu menunjukkan dua kemeja laki-laki padaku. Satunya berwarna abu-abu, satunya kotak-kotak merah.

“Abu-abu,” jawabku.

Perempuan itu mengangguk-angguk, lalu menempelkan kemeja yang masih di hanger itu pada tubuhku.

 “Wah, sepertinya cocok.”

Sebentar. Kenapa dia melakukan itu? Apa itu artinya dia membelikan kemeja ini untukku?

“Baiklah. Aku akan membeli ini.”

“Kau beli untuk siapa?”

“Rahasia! Tapi sebentar lagi kau akan tahu, kok!”

WAH. Sudah jelas. Pasti kemeja itu untukku. Biasanya dia akan langsung memberi tahu jika hadiah itu untuk orang lain.

***
“BAMBAM!” Lisa memanggil.

Kali ini, aku sedang di kampus. Yah, kami memang satu kampus.

“Arah jam dua!”

Aku mengikuti intruksinya. Pandangan mataku menuju ke arah yang ia katakan. Dan mendapati seseorang mengenakan topi dan juga masker, sedang bermain ponsel. Sungguh aku tidak tahu apa maksudnya. Bahkan aku tidak kenal dengan orang itu.

Aku menoleh ke arah Lisa, sambil memasang ekspresi bingung.

“Perhatikan sekali lagi!”

Oh astaga, jika bukan karena orang yang kusukai, aku tidak mungkin akan memerhatikan laki-laki sampai sebegininya.

Dengan sangat terpaksa, aku melihat seseorang itu lagi. Untung saja ia sedang asyik bermain ponsel. Jika tidak, aku pasti sudah dipandang aneh karena sejak tadi memerhatikannya.

Sial.

Aku sudah menyadari sesuatu sekarang.

Oh, aku merasakan ada suara-suara retakan di dalam dadaku. Oke, ini berlebihan. Tapi serius, ada sedikit—atau banyak mungkin—rasa sakit di sana.

Kau tahu apa? Seseorang yang sejak tadi aku perhatikan, memakai kemeja berwarna abu-abu.





FIN

ini loh seseorang laki-laki yg dimaksud bambam hehe

[Fanfiction] R for Redamancy

Image result for mark lee kang mina


Sudah seminggu terlewati semenjak Mark mengungkapkan perasaannya. Sialan memang, ia sudah membuang gengsinya jauh-jauh, tapi si gadis justru hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. Lalu setelahnya apa, justru melakukan hal seperti biasanya seolah tidak terjadi apa-apa.

Seperti saat ini, mereka berdua—Mina dan Mark—sedang duduk berhadapan di sebuah kafe. Iya, duduknya sih berhadapan. Tapi mereka sibuk dengan tugas masing-masing. Mark sibuk dengan makalahnya, begitu juga dengan Mina. Dua-duanya asyik menatap laptop masing-masing.

Ehm, sepertinya kalimatnya perlu diralat. Mark pura-pura sibuk dengan makalahnya. Padahal pikirannya melanglang buana mengingat kejadian seminggu lalu. Ugh, Mark menggaruk kepalanya frustasi. Tapi sepertinya pergerakannya terlalu heboh sampai-sampai membuat Mina menghentikan aktivitasnya, dan menurunkan layar laptopnya.

“Kenapa?” tanya Mina bingung. “Tugasnya susah?”

Mark menggeleng.

“Terus?”

“Tidak papa.”

Bodoh. Mark merutuki dirinya sendiri. Seharusnya ia bertanya mengenai seminggu yang lalu. Kenapa ia justru menjawab tidak apa-apa? Padahal jelas-jelas ia sedang ada apa-apa.

“Oi,”

“Hah?”

“Kenapa? Malah bengong.”

Mark menggaruk tengkuknya. Ia berusaha untuk tidak terlihat salah tingkah, tapi sepertinya gagal total karena yang terjadi justru sebaliknya. “Anu, engg,” Mark masih berusaha untuk berbicara, tapi tetap saja kata-kata yang sudah terangkai di otaknya tidak bisa keluar.

“Kenapa sih?” Mina jadi gemas sendiri melihat tingkah Mark.

“Nanti saja.” kata Mark pada akhirnya, menyerah.

Mina menghela napas, lalu menaikkan lagi layar laptopnya. Melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti.

Sementara Mark, memandang laptopnya dengan pikiran yang campur aduk. Kalau begini caranya, bagaimana ia bisa fokus mengerjakan tugas? Yang ada bukannya selesai, justru makin kacau.

“Mark?”

“Ha?”

“Tuh kan bengong lagi. Kenapa sih? Ada masalah?” tanya Mina. Kali ini dia sudah menutup laptopnya.

Mark mengulum bibirnya, ia berusaha sekuat tenaga mengontrol sikapnya sekaligus berusaha agar kata-kata yang sudah terangkai di otaknya, bisa keluar dengan benar tanpa ada salah eja.

“Soal, seminggu yang lalu,” kata Mark, menelan ludahnya. Ia berharap Mina langsung mengingatnya, jadi ia tidak perlu memperjelas lagi apa maksudnya.

“Seminggu yang lalu?” tanya Mina bingung.

Masa harus diperjelas sih?

“Aku menunggu jawaban dari pertanyaan seminggu yang lalu.” Ah, akhirnya kata-kata itu keluar juga dari bibirnya.

“Pertanyaan?” Mina terlihat bingung.

Oh astaga, kenapa bagi Mark wajah bingung Mina menjadi sangat menggemaskan begini?

“OH!”

Mark bernapas lega, karena akhirnya Mina paham apa yang ia maksud.

“Masa harus aku perjelas sih? Kukira kau sudah paham.”

Kini justru Mark yang melongo.

“Kalau aku tidak merasakan hal yang sama, ngapain juga aku mengajakmu mengerjakan tugas bersama?”

“Eh?” Mark mengerjap-ngerjap. Berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Mina.

“Jadi, kita—“

“Iya. Sudah ah, aku malu.” Mina kemudian menutup wajahnya, dan hal itu membuat Mark semakin gemas.


fin
Image result for redamancy meaning

[Fanfiction] Q for Question

Image result for question tumblr


Mingyu memandang secarik kertas yang baru saja ia dapatkan dari seseorang tak dikenal. Katanya sih, ada perempuan yang mengirimnya untuknya. Tapi seseorang yang baru saja mengirim pesan itu tak berbicara lebih jauh mengenai perempuan tersebut. Dalam kertas itu pun, hanya ada satu kalimat; Sebuah kalimat pertanyaan.

Membaca pertanyaan itu membuat jantung Mingyu seolah berhenti berdetak. Ketakutan langsung menyergap tubuhnya. Tanpa berpikir lebih panjang, mingyu berusaha pergi sejauh mungkin.

Lelaki tinggi yang semula ingin menghabiskan waktu di kafe untuk menikmati pemadangan turunnya salju dari balik kaca, mengurungkan niatnya. Ia langsung ingin pulang saat itu juga, sebelum bertemu dengan perempuan yang katanya memberikan kertas itu.

Persetan dengan kopi yang baru saja ia pesan. Ia mau kabur.

Kim Mingyu langsung keluar dari kafe, dan masuk ke dalam mobilnya. Ia mengemudi menuju ke apartemen Wonwoo—sahabatnya. Karena ia pikir, apartemennya bukanlah tempat yang aman. Ia harus berlindung. Entah dari siapa. Yang jelas, dari perempuan yang katanya memberikan kertas itu.

Kalau saja itu kali pertama Mingyu mendapat surat, mungkin ia akan bersikap biasa saja. Namun, ini sudah yang ketiga kalinya. Surat itu selalu berisi tentang tiga pertanyaan.  Pertanyaan yang berhasil membuat Mingyu ketakutan setengah mati.

Isi pertanyaan itu adalah:

Tidak bisakah kau mati saja?
Ugh, kenapa kau masih hidup?
Apa kau mau mati di tanganku?

Awalnya ia berpikir itu orang iseng. Tapi orang iseng mana yang mengirim surat dengan pertanyaan macam itu? Terlebih lagi ia mendapatkan kertas itu di berbagai tempat. Menandakan bahwa si pengirim jelas mengikuti Mingyu.

***

Mingyu baru saja sampai di apartemen Wonwoo. Namun  ketika lelaki itu hendak memencet bel, sebuah peluru menembus kepalanya. Badan Mingyu langsung ambruk, dan darah segar mengalir dari kepalanya.

Mendengar suara tembakan, Wonwoo langsung keluar dari apartemennya. Ia langsung disambut dengan tubuh Mingyu yang sudah tak bernyawa, dan seorang perempuan yang berjongkok di sebelahnya.

“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Wonwoo.

“Tentu. Lihatlah siapa yang akhirnya mati.” Jawab perempuan itu.

Wonwoo tersenyum, “Kerja bagus, Minkyung. Sepertinya kita harus bergegas pergi dari sini.”


fin

[Fanfiction] P for Permen Kapas

Related image

Doyoung sebal setengah mati dengan Sejeong. Pasalnya, Sejeong pergi entah ke mana meninggalkan Doyoung berdua dengan anak kecil berumur tiga tahun yang sejak tadi melompat-lompat dan berlari ke sana kemari. Bahkan Doyoung sejak tadi menjadi pusat perhatian ibu-ibu yang berada di taman bermain ini. Tidak heran sih, Doyoung jelas terlihat masih muda, sama sekali belum cocok jika sudah memiliki anak tiga tahun.

“Kak, Kak,” Anna—nama anak kecil itu—menarik-narik lengan baju Doyoung, membuat lelaki itu memandang ke bawah, dan berjongkok.

“Iya? Kau mau apa?” tanya Doyoung seramah mungkin.

Bukannya menjawab, anak kecil itu justru meloncat-loncat dan menunjuk langit.

Hah? Dia mau terbang?

Doyoung bingung harus bagaimana. Ia sama sekali tidak tahu dengan apa yang dimaksud anak kecil ini. Lelaki itu berpikir, berusaha semaksimal mungkin menggunakan otaknya supaya bisa mengerti apa yang dimaksud Anna.

“Balon?” tanya Doyoung asal.

Mungkin saja, langit kan tempat balon terbang. Dan sudah sewajarnya bukan anak kecil menyukai balon?

Tapi tebakannya tidak benar. Ternyata, anak kecil itu menggeleng.

“Lalu apa?” tanya Doyoung lagi.

Anak kecil itu masih menunjuk-nunjuk langit, membuat lelaki itu semakin pusing.

“Kak, aku mau!”

“Mau apa, sayang?”

Dan lagi, anak kecil itu masih menunjuk langit. Oh astaga, yang benar saja. Jika saja ini bukan anak kecil, mungkin Doyoung sudah marah. Lagian, Sejeong—kakak sepupu anak ini, sekaligus kekasih Doyoung—ke mana sih? Katanya mau membeli sesuatu untuk Anna tapi belum juga kembali.

“Kaaaak!” Anna mulai merajuk.

“Si—“ Doyoung hampir mengumpat, untung aja ia berhasil mengontrol mulutnya.

“Bentar ya, tunggu Kak Sejeong.”

Astaga, sekarang wajah Anna langsung berubah drastis. Dan ia sepertinya akan menangis, dan—
Benar.

Anna menangis sekencang-kencangnya, sambil memukuli pundak Doyoung. Doyoung sendiri menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung. Ia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menghadapi bocah tiga tahun yang sedang menangis dan menginginkan langit. Seandainya saja google bisa membantu. Doyoung pasti tidak akan sepusing ini.

“Anna, sshh,”

BODOH. Bukan begini caranya menenangkan anak kecil yang menangis.  

Doyoung meurutuki dirinya sendiri. Sekarang, ia benar-benar kesal dengan Sejeong. Awas saja nanti kalau nanti dia kembali.

“Anna, lihat! Ada boneka lucu!” Doyoung menunjuk boneka yang terpajang di salah satu toko boneka di sekitar taman. Berusaha mengalihkan perhatian Anna supaya ia tidak menangis lagi, tapi hasilnya nihil.

Doyoung menyisir sekeliling, lalu melihat ayunan. “Anna, ayo main ayunan!”

Bukannya diam, Anna justru menangis lebih kencang. Membuat Doyoung semakin menjadi pusat perhatian. Lelaki itu memandang sekeliling lagi, mencari suatu hal yang kira-kira bisa membuat Anna berhenti menangis.

Tapi ia tidak menemukan apa pun. Yang ia temukan hanya Sejeong yang sedang berjalan menuju ke arahnya—yah, itu justru jauh lebih baik.

“Doyoung! Kau apakan dia?” tanya Sejeong yang tiba-tiba datang dan membawa tiga permen kapas di tangan.

Tangisan Anna berhenti. Ia langsung meloncat-loncat seolah berusaha meraih permen kapas yang dibawa Sejeong. Sejeong menunduk, lalu menyerahkan permen kapas itu.

Gumawo, Kak Sejeong baik! Tidak seperti Kak Doyoung!” Anna mulai memakan permen kapasnya.

“Tadi kenapa?” Sejeong bertanya, lirih. Supaya Anna tidak mendengar.

“Sepertinya dia ingin permen kapas. Tapi—“

“Tapi?”

“Dia menunjuk langit, ya aku mana tahu!”

Sejeong tertawa, “Maksudnya awan. Permen kapas kan mirip awan.”

“Astaga, kenapa dia tidak langsung bilang saja sih kalau mau permen kapas?”

“Namanya juga anak kecil.” Sejeong memberikan permen kapas pada Doyoung, “Nih.”

Doyoung menerimanya.



Fin