Showing posts with label Writing Challenge. Show all posts
Showing posts with label Writing Challenge. Show all posts

Feel Changed

Image result for bunga aesthetic tumblr

“Permisi, Kau tahu di mana rumah Damian?” tanya seorang perempuan berambut pendek yang sudah bolak-balik dua kali melewati rumah Aurore.


Aurore yang sedang asyik menyirami bunga-bunganya, menghentikan aktifitas. Ia menarik ujung-ujung bibirnya membentuk sebuah lengkungan, lalu menangguk. Terlihat binar di mata perempuan itu kala Aurore mengangguk.

“Kau tahu?” sepertinya, perempuan itu masih kurang yakin dengan anggukan Aurore tadi.

“Iya,” tegas Aurore. Ia menunjuk sebuah rumah yang ada di seberangnya. “Itu.” dan tepat setelah itu, Damian keluar dari rumah. Bukan, bukan. Lelaki itu tidak keluar dari rumahnya. Tetapi dari rumah Aurore.

“Rore, kenapa laptopmu menda—“ Damian langsung berhenti bicara ketika sepasang matanya menangkap kehadiran perempuan berambut pendek yang entah siapa namanya. “Oh, hai Aleen.”

Yang dipanggil Aleen langsung melambai, melangkahkan kaki menuju Damian dan langsung memeluknya. “Aku rinduuuuu! Kau apa kabar?” tanya Aleen setelah melepas pelukannya pada Damian.

Astaga, langit terlalu cerah, dan bunga-bunga milik Aurore terlalu indah untuk melihat raut tidak enak yang muncul di wajah Aurore yang langsung berubah menjadi ceria—ehm, pura-pura ceria—saat Damian menatapnya. Tatapan yang mengisyaratkan Aurore untuk menatap Damian.

“Oh, hai Aleen.” Gadis itu meletakkan gembornya,  lalu bersalaman dengan Aleen. Seseorang yang tiba-tiba datang dan berhasil membuat moodnya rusak.

“Hai,” Aleen menyambut tangan Aurore, “Namamu—“

“Aurore,”

“Hai, Aurore!”

“Aleen, ayo ke rumahku saja.” Damian kemudian menatap Aurore, “Laptopmu mati, omong-omong. Padahal tugasku belum disimpan.”

“Tenang saja, bisa tersimpan otomatis kok.”

Aurore sebenarnya malas harus berpura-pura, lagipula kenapa sih Aleen harus melempar sebuah senyuman padanya? Jadi dengan sangat terpaksa—karena ada Damian—Aurore membalas senyum gadis itu.

Aurore hanya bisa tersenyum pahit memandang punggung seseorang yang telah membuatnya jatuh, dan perempuan yang selalu Damian ceritakan sampai keduanya telah menghilang, di balik pintu rumah Damian.

***

Aurore tidak henti-hentinya mengintip dari balik jendela, menunggu Damian dan Aleen keluar rumah, tapi tidak kunjung keluar juga. Lagi-lagi, yang terdengar hanya tawa mereka berdua—pintu rumah Damian tebuka omong-omong.

Padahal sudah dua jam si Aleen itu bertamu. Dan hari makin gelap. Ah, seharusnya sejak lalu Aurore mencegah dirinya jatuh terlalu dalam pada Damian.

***

“Rore, kau menangis?” tanya Damian keesokan harinya.

Aurore tertawa canggung, “Aku menonton film sedih.”

Damian hanya ber ooh ria. “Ngomong-ngomong, aku senang bisa bertemu dengan Aleen. Aku tidak menyangka dia mencari rumahku.”

Astaga, Damian. Tolong jangan soal Aleen. Lagi.

“Lalu?” Ah, bodoh. Kenapa pula Aurore harus bertanya?

“Yah, dia ingin kami kembali seperti dulu.” Jawab Damian enteng. Ia tidak paham, bahwa ada sesuatu yang patah sekarang.

Lelaki itu tersenyum, “Tentu saja aku tidak mau. Perasaanku sudah berubah. Berbelok dari Aleen menuju tetanggaku yang menyebalkan.”

Aurore tidak bisa menyembunyikan senyumnya, dia terlalu bahagia. Maaf saja untuk Aleen, yang kini merasakan segala hal yang pernah dirasakan oleh Aurore dua tahun.

Rumah Baru

Related image




Vanessa senang. Hari ini, sudah saatnya dia dan Elle pindah ke rumah baru. Ia sudah sangat penasaran dengan kondisi rumah baru. Kalau Elle sih, sudah tahu. Beberapa hari lalu Elle diajak oleh Mom untuk mendatangi rumah baru. Elle sangat senang. Kata Elle, rumahnya bagus. Dan jauuuuh lebih luas dari rumah lama mereka sekarang.

Kalau Elle senang, maka Vanessa juga senang. Elle cerita banyak hal pada Vanessa.

“Vanessaaa!” Kata Elle saat masuk ke dalam kamar—beberapa hari lalu setelah Elle pulang dari rumah baru.

“Kau harus tahu,” Elle menutup pintu, mendekati Vanessa. “Rumah baru sangat luaaas sekali! Kita bisa bermain apa pun di sanaaa! Oh iya, ada taman yang luas di depan rumaaah! Kita bisa berlari-lari, lompat tali, dan masih banyak lagi!”

Vanessa hanya tersenyum.

“Ohh, oh, oh!” Mata Elle berbinar, dari wajahnya terpancar bahwa ia mengingat sesuatu yang sangat menakjubkan. “Kudengar, banyak anak seumuranku di sekitar sana. Jadi, kita tidak hanya main berduaaa!” cerita Elle sangat antusias.

***

Vanessa senang. Sekarang mereka sudah ada di rumah baru. Elle kini tengah asyik berkenalan dengan gadis-gadis seusianya. Mereka kini sedang asyik bermain boneka, memperkenalkan boneka milik masing-masing.

Vanessa tersenyum, yah, Vanessa memang selalu tersenyum. Ia memandangi Elle yang kini sangat bahagia. Baru dua kali ia melihat Elle sebahagia ini. Pertama, saat Elle bertemu dengannya. Dan kedua, saat ini.

Di balik jendela, Vanessa melihat semuanya. Bagaimana Elle bermain sepeda bersama teman-temannya, soal matahari yang secara tidak langsung membuat Elle masuk ke dalam rumah, dan soal rintik-rintik hujan yang kadang membuat garis cerah di wajah Elle menjadi keruh.

Vanessa beruntung. Meskipun ia tidak bisa bermain bersama Elle lagi, tapi setidaknya dia tidak terkurung di kamar seperti di rumah lama. Di sini, di balik jendela besar yang ada di ruang tamu, Vanessa bisa memandangi lalu lalang kendaraan.

Bahkan, ia kadang melihat Elle melambaikan tangan padanya. Dan Vanessa hanya tersenyum. Yah, ia tidak bisa melambai. Ia juga tidak bisa ikut bermain bersama Elle. Yang bisa ia lakukan hanyala berada di balik jendela selama-lamanya.

Bagaimana bisa Vanessa bisa melakukan hal lain jika ia hanya sebuah boneka berisi dakron yang dibuat oleh Elle dan ibunya?


Letter

Image result for letter aesthetic tumblr
cr:here




Tema terakhir!
Akhirnya, sampai juga pada tema terakhir.

Omong-omong, gue nggak nulis tema ke enam. Karena yah otak gue belom nyampe. Elah, ini gue masih tujuh belas tahun, KTP belom jadi temanya udah pasangan hidup aja. Gue tuh dari kemarin udah mikir mau nulis apaan tapi tetep aja nggak kepikiran apa-apa. Yaudah. Jadinya gue lewatin aja tema hari ke enam.

Untung aja tema ke tujuh ini nggak susah-susah amat. Justru bisa dibilang gampang. Ah, yaudah deh langsung aja.

Untuk Ocha, 5 tahun yang akan datang.

CHAAA!!!! LO UDAH LULUS KULIAH KAN YAAA? Terus terus, sekarang udah punya pacar belom? Hehehe gue penasaran banget dah sama kisah percintaan lo. HAHAHA. Apakah kisah percintaan lo di kampus sepedih masa SMA?

ATAU JANGAN-JANGAN LO UDAH NIKAH?

Eh, belom kan yaaa, lo masih dua puluh dua masa iya udah nikah sih.

Seriusan deh, banyak banget yang pingin gue tanyain ke elo. Gue jadi bingung mau nanya yang mana dulu.

Yaudah, gue mau nanya kabar keluarga dulu. Mereka sehat, kan? Sekarang mereka tinggal di mana? Masih di Pemalang atau udah pindah?

Terus terus, blog lo ini masih keurus nggak? Lo masih terjebak dalam lubang hitam perkpopan kah? Aduh, gue sih berharap lo udah bisa keluar ya dari lubang itu. Gue juga berharap, blog lo masih keurus. Gue juga berharap, lo masih suka baca dan nulis. Atau jangan-jangan, lo udah nerbitin buku?

Ah, udah deh. Pertanyaannya itu aja. Ini berasa wawancara ya gue nanya mulu. Maafkan.

Yaudah, sekarang gue cerita deh gimana keadaan lo lima tahun lalu. Jadi, lima tahun lalu itu lo tuh hampir 24/7 fangirling. Apalagi setelah tes perkuliahan itu. Gila, lo parah banget cha. Kerjaannya tuh cuma nontonin bias mulu. Yah, sama bantu orang tua sih. Itu pun kalau disuruh. Kalu enggak ya lo di depan laptop atau hp.

Udahlah. Pokoknya lo tuh males banget lima tahun lalu. Semoga lo yang sekarang, lo udah bisa lebih rajin, ya. Lebih mandiri, nggak manja lagi.

Ah, gue jadi inget. Kemarin, lo itu habis kumpul sama squad favorit lo yang udah menjadi squad selama enam tahun. Kemarin, kalian berbagi banyak cerita. Masih dalam satu kota. Dan sebentar lagi akan pisah. HUHUHU gue sedih banget, takutnya lo yang sekarang udah nggak bisa kumpul lagi sama squad itu. Gue takut kalau mereka udah hilang. Udah sibuk masing-masing. Gimana? Kalian masih saling kontak, kan? Gue bener-bener berharap--iya maap gue berharap mulu--kalau kalian masih kontakan dan masih sering ketemuan.

Hm, sepertinya sekian dulu surat dari gue. Semogaaaaa lo yang sekarang nggak menyesal sama keadaan lo lima tahun lalu dan semoga lo bisa lebih baik dari gue. Jangan lupa bahagia, ya!


Pemalang, 2017. Sambil mendengarkan lagu untitled, 2014.

Hai, Aku Rindu.

Image result for bogoshipda quotes tumblr



Yang ingin gue temui?

Dia.

Seseorang yang sudah mengisi masa-masa sekolah menengah atas gue. Baiklah, gue akui kami sudah bertemu kemarin—tepatnya beberapa hari yang lalu. Tapi kami tidak sempat berbincang. Kami hanya saling melirik. Saling menatap, lalu sudah.
Alasan? Karena rindu. Kangen.

Gue kangen sama candaannya dia yang selalu bikin gue ketawa ngakak. Kangen ngobrol sama dia panjang lebar membahas apa pun.

Sebenernya, waktu acara kemarin, gue berniatan untuk membonceng dia. Tapi sayangnya, gerakan gue lamban. Saat gue line dia, dianya sudah sampai di lokasi pertemuan. Baiklah, oke. Mungkin kami bisa berbincang saat di acara.

Tapi nyatanya?

NGGAK SAMA SEKALI.

Kami memang makan bersama. Tapi posisinya jauh dan tidak satu meja. Dan dia sepertinya asyik berbincang-bincang dengan teman laki-lakinya—yah, temen gue juga sih.

Saat selesai acara pun, dia langsung pulang. Yah, mungkin itu bukan waktu yang tepat bagi kami. Bisa jadi aja, ada keajaiban yang terjadi dan mengantarkan kami berada di kampus yang sama.

Tapi, perlu gue klarifikasi di sini.

Gue sama sekali nggak naksir sama dia. Gue hanya, merasa nyaman aja. Nggak lebih. Yah, bagaimana sih rasanya jika biasanya setiap hari bertemu, membicarakan hal yang penting sampai tidak penting. Biasanya tertawa bersama, mengerjakan tugas bersama, lalu tiba-tiba kebiasaan itu hilang dalam sekejap?


Tentu saja rindu.

Hal yang Paling Memalukan?







Hal yang paling memalukan. Ini sepertinya si pembuat tantangan secara tidak langsung menyuruh gue untuk membuka aib. HAHAHA.  Baiklah. Ya, walau sebenernya ini nggak malu-malu amat. Tapi tetep aja malu-maluin menurut gue.

Kejadian ini terjadi saat gue masih kelas sebelas. Tepatnya setahun yang lalu. Saat itu, gue ada penilaian seni tari. Penilaian itu dilakukan secara berkelompok. Jadi, satu kelas yang berisi empat puluh orang itu, dibagi menjadi empat kelompok. Gue mendapat giliran sebagai kelompok ke tiga—eh atau ke empat, gue agak lupa. Intinya, gue tampil.

Sebelum-sebelum tampil, karena gue sangat-sangat-sangat gumoh sama pelajaran tari karena sesuatu hal, gue—dan temen-temen gue—nggak pernah latihan. Pernah sih. Tapi cuma beberapa kali doang.
Jadi, tari kali ini harus menampilkan semacam tarian yang ada kisahnya, lalu dicampur dengan tari modern. Dan, kami disuruh menari selama dua puluh menit. DUA PULUH MENIT. Kami bingung. Ini disuruh nari atau pementasan drama sih? Lama sekali. Jika saja dia bukan guru mungkin gue udah—stop, nggak baik menghina guru—oke, skip  saja bagian ini keburu gue jadi emosi.

Akhirnya, kami berhasil menarikan tarian dengan baik.

Tapi, itu berjalan saat tiga belas menit awal—akhirnya kami memutuskan hanya menari lima belas menit, kalau tidak salah. Tiga menit terakhir, kacau.

Tarian tiga menit itu susah sekali. Dan, kami baru latihan itu waktu sore sebelum menari. Nekat,kan? Dan hasilnya? HANCUR.

Yang memalukan adalah, kami ditonton oleh banyak orang. Lalu yang terjadi apa? Kami seperti orang aneh yang sedang menggerak-gerakkan tubuh di atas panggung. Rasanya malu. Parahnya lagi, guru tari kami geleng-geleng kepala dan ekspresinya itu seperti

“INI BOCAH LAGI PADA NGAPAIN DAH MASA KAYA GINI DISEBUT TARIAN?”

Yah, kira-kira seperti itu. Gue blank karena banyak yang ngelihatin. Nggak fokus. Dan nggak ngerti juga tariannya jadi ngawur abis. Formasi ancur. Kami cuma tukar-tukar formasi yang tidak jelas. Malu sekali rasanya.

Seharusnya, kami tidak perlu memaksakan menari tiga menit itu. Jika saja begitu, mungkin semua akan lebih baik.


Jika saja kami sedang dalam pertunjukan, kami mungkin sudah dilempari telur.

Kehilangan


Image result for lose quotes tumblr aesthetic


Kehilangan. Hampir setiap orang pernah mengalami kehilangan. Tidak terkecuali dengan gue. Tapi sejujurnya, gue belum pernah merasakan kehilangan yang amat sangat, sih. Kalau ada stadiumnya, mungkin kehilangan gue hanya mencapai stadium dua. Tidak sampai stadium akhir.

Kehilangan yang paling-paling adalah saat gue kehilangan seseorang yang pernah mengisi hari-hari gue selama enam tahun—eh, atau mungkin tujuh tahun?—dia masih hidup, kok. Bahkan kami masih berada di satu kota. Rumah kami pun sangat dekat. Bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Tapi anehnya, kami tidak pernah bertemu. Mungkin Tuhan tidak ingin mempertemukan kami.

Di antara gue dan dia, tidak ada yang menawarkan janji untuk bertemu. Seandainya gue pingin, gue bisa kok dateng ke rumah dia langsung. Dan dia juga bisa langsung dateng ke rumah gue. Kami juga punya kontak satu sama lain, kok. Hanya saja, entahlah. Ini sulit dijelaskan.

Keadaan tiba-tiba membuat kami terpisah jauh. Gue pun masih kurang paham kenapa kami menjadi seperti ini. Dan gue nggak perlu memahami. Toh, jika gue paham dengan apa yang terjadi, belum tentu hubungan kami bisa menjadi seperti dulu.

Kehilangan selanjutnya adalah kehilangan waktu. Waktu adalah sesuatu yang berharga. Gue kehilangan waktu untuk beristirahat karena matrikulasi yang ujung-ujungnya tidak terpakai. Ah, mungkin permasalahan ini hanya bisa dipahami oleh teman satu angkatan gue yang menjadi korban kurikulum.

Selanjutnya lagi, kehilangan sesuatu. Kehilangan sesuatu ini masih teringat jelas dalam pikiran gue. Gue kehilangan helm. Baiklah, mungkin ini terkesan remeh. Tapi, gue bener-bener merasa kehilangan. Lagipula kan, penilaian orang tentang kehilangan kan berbeda-beda.


Asal tahu saja, helm itu masih baru. BARU PERTAMA KALI DIPAKAI. Jika perlu gue garis bawahi. Kadang, kehilangan sesuatu yang baru kita dapat itu lebih sakit daripada kehilangan sesuatu yang sudah lama kita dapat. Terlebih lagi, kehilangan itu datang secara tiba-tiba dan tidak terduga.

5 Hewan yang Ingin Dipelihara




Hasil gambar untuk pegasus quote tumblr
cr;sini

Lima peliharaan yang ingin gue pelihara?

Sebenernya gue bukan orang yang cukup sabar untuk ngurusin binatang. Dan gue bukan orang yang telaten yang bisa menyempatkan diri untuk memberi mereka makan. Tapi meskipun begitu, ada beberapa hewan yang ingin gue pelihara.



1. Ikan Lou Han

Sebelumnya, gue udah pernah melihara hewan ini. Sepasang. Tapi mereka udah mati. Bukan mati karena nggak gue kasih makan loh ya, tapi karena emang udah saatnya mati. Gue pingin melihara ikan Lou Han karena menurut gue, itu nggak ribet. Cuma paling bersihin aquariumnya aja yang agak ribet.


2. Burung Hantu

Menurut gue, memelihara burung hantu itu keren.  Lagian jarang-jarang juga kan ya, orang melihara burung hantu. Biasanya kan melihara burung merpati, burung kakaktua.


3.  Burung Merak

ITU SAYAPNYA INDAH BANGET WOI HUHUHU SIAPA SIH YANG NGGAK PENGEN?  Sayap Burung Merak itu keren parah, terutama yang cowok. Jadi nanti gue pingin bikin kandang di belakang rumah yang isinya sepasang Burung Merak.


4. Pegasus

Oke, gue tahu Pegasus itu nggak ada beneran. Tapi bisakah kalian mengijinkan gue untuk berimajinasi walau hanya sebentar? Gue pingin banget memelihara pegasus. Gue pingin, setiap sore bisa dibawa terbang sama pegasus. Menikmati keindahan alam dari atas. Nggak usah ribet-ribet mengendarai helikopter atau pesawat terbang karena—hei, gue punya pegasus yang bisa diajak terbang!


5. Singa


Percayalah rambut singa itu lembut. Kalau nggak percaya yaudah silahkan kalian pegang sendiri. Kalau lagi stres gitu, rasanya stres bisa ilang kalau mengelus-ngelus rambut singa. Ya, itu akan menjadi hiburan tersendiri buat gue.

ALOHAAA~



HALOO! Untuk memenuhi tantangan Kampus Fiksi kali ini, gue akan memperkenalkan diri. 

Ehm, baiklah. Gue yang berharap tahun ini bisa menjadi maba akan mulai perkenalan. Nama gue itu Ghina Kurnia Oksatianti. Biasa dipanggil Ocha. Jangan tanya sama gue kenapa gue dipanggil Ocha karena sesungguhnya gue juga nggak tahu. Menonton drama korea, mendengarkan musik, membaca, dan fangirling adalah sesuatu yang bikin gue bahagia dan rela membuang banyak waktu. Sementara kuota, jus alpukat, sate ayam, dan bakso adalah hal yang bisa bikin gue rela membuang uang. Lalu, apalagi ya .... Ah, saat ini gue sedang kecanduan menulis fanfiksi dan mengutak-atik photoshop. 


Kalau kata orang yang belom kenal sama gue, mereka akan bilang kalau gue itu kalem. HAHAHAHA. Fitnah. Faktanya gue itu berisik banget dan kalau ketawa kenceng banget. Kalau kata temen gue, omongan gue itu nggak bisa difilter, apalagi kalau sama temen sendiri. Iya emang, daripada berbicara di belakang, gue lebih suka blak-blakan menyakiti dia di depannya.

Udah, sekian saja dari gue, perempuan yang meski makan sebanyak apa pun tetap kurus.

#KampusFIksi 10 Days Writing Challenge;Hal yang Tidak akan Diulangi

Sebenernya, aku nggak berniat buat nulis yang terakhir. Tapi, karena aku udah ikut selama sembilan hari, rasanya nggak elegan banget kalau aku kabur dari hari yang ke sepuluh. Oke, ini mungkin udah terlambat satu hari. Tapi yaudahlahya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Ya, meskipun yang paling baik itu tepat waktu sih.



Apa yang kalian pikirkan setelah melihat gambar di atas?

Earphone?

Musik?

Hal yang menyenangkan?

Kalau aku sih, lihat benda itu bawaanya jadi keinget sama tantangan ini. Hal yang nggak akan aku ulangi. Kok bisa?

Jadi, ceritanya gini. Aku itu kecanduan banget sama yang namanya musik. Jadi, kalau tidur--kecuali dalam keadaan ngantuk banget--aku harus dengerin musik. Yah, karena aku nggak mau mengganggu tidur orang rumah, maka aku memasang earphone di telinga.

Sialnya, waktu itu aku lupa sesuatu.

Jadi, aku belum bikin playlist. Yah, lagunya muter acak gitu.

Ya nggak masalah sih sebenernya.

Yang jadi masalah adalah, lagu dalam ponselku itu jumlahnya ratusan. Hampir tiga ratus kayaknya. Banyak banget nggak sih? Jadi, lagu itu keputer terus selama aku tidur. SELAMA TIDUR. Pas aku bangun, earphone itu masih terpasang di telinga.

Untung aja, aku kebangun tengah malem. Seenggaknya, nggak tidur sampai pagi, lah. Serius, itu kuping rasanya sakiiiit banget. Bener-bener sakit. Gara-gara itu, aku sampai beberapa hari nggak berani dengerin musik pake earphone.

Tapi sekarang udah berani lagi. HEHE.

Ya cuma kalau dengerin musik pake earphone pas mau tidur, nggak lagi-lagi deh. Kapok. Cukup sekali. Nggak perlu sampai berulang kali.

#KampusFIksi 10 Days Writing Challenge;Surat untuk Seseorang

Untukmu yang akhir-akhir ini menarik perhatianku.

Aku tidak ingin menulis panjang-panjang, aku hanya ingin bilang; berhentilah melakukan hal-hal yang mengagumkan. Nanti aku jatuh hati. Kalau aku jatuh hati, memangnya kamu mau bertanggung jawab?


Dari seseorang yang sangat dekat—yang diam-diam memerhatikanmu.

#KampusFIksi 10 Days Writing Challenge;5 Fakta yang Berlawanan dengan Opini Orang



Baiklah, karena setiap orang berhak untuk berkomentar dan beropini sesuka hati, maka sudah pasti banyak opini orang yang mereka utarakan soal aku. Dan, nggak sedikit juga yang salah kaprah. Baiklah, akan aku sebutkan satu-satu.


1. Pendiem.

Hell, aku tercengang ada orang yang bilang aku pendiem. Ini pendiem dari sisi mana coba? Nggak sama sekali. Ya, kalau belum kenal ya emang pendiem sih. Bukannya malu mau ngomong atau gimana, tapi bingung apa yang mau diomongin. Apalagi kalau si lawan bicara itu responnya cuma secukupnya. Jatuhnya jadi kayak wawancara.

Ya mending kalau direspon. Kalau cuma dijawab anggukan atau gelengan? Yang lebih parah justru dikacangin? Dih, males. Mending diem aja. Ya kali mau ngomong sendiri? Disangka orang gila dah.
Bahkan, kalau udah akrab banget, temen-temen itu ngomong, “Diem weh jangan ngomong mulu.”


2. Kalem

“Cha, kamu jadi orang jangan kalem-kalem dong...”

INI KALEM DARI MANA? Percayalah, orang yang pakai rok dan berkerudung itu belum tentu
kalem. Ya, kalau orang yang nggak terlalu kenal ya jelas bakal bilang kalem. Padahal mah apa.
Nggak punya sisi kalem sama sekali.


3. Nggak Doyan Makan

Banyak yang bilang kalau aku nggak doyan makanlah, makannya sedikitlah, atau apalah. Padahal mah enggak. Emang sih, aku makan nasi itu dua kali sehari. Tapi aku banyak ngemil, kok. Banyak jajan juga. Aku itu tipe yang makan banyak tapi nggak gendut-gendut.

Mau nambah tiga kilogram aja susahnya minta ampun. Kalau nurunin berat badan sih, gampang banget. Sakit sehari aja udah turun satu sampai lima kilogram. Ya gitu deh:”) padahal aku sudah cukup lho makannya. Udah minum susu juga. Tapi tetep aja tidak ideal?!?!


4.Cewek Paling Nggak Polos di Kelas

Ini yang nyebelin banget! Anak-anak cowok itu ngira, kalau aku itu paling nggak polos di kelas! Jadi, mereka suka bercanda ke hal-hal yang menjurus ke sana. HHH males. Tapi asyik. Padahal mah aku nggak sekotor itu;-; aku masih punya sisi polos kok.

Aku emang banyak tahu, tapi bukan berarti aku suka sama hal-hal yang menjurus ke sana. Ya namanya juga masa pubertas, wajar kan?

Padahal tuh di kelas hampir semua ceweknya nggak ada yang polos! Cuma aku aja yang frontal, jadi dibilang paling nggak polos. Padahal mah sama aja. L

Heran emang. Ada yang bilang kalem, tapi kalau di kelas, aku dibilangnya begini. Nyebelin emang. Padahal aku nggak gituuuu!;-;


5.Cuek

Padahal aku orangnya peduli lho. Tapi masa ada yang bilang cuek? Ya memang sih, kadang aku sengaja pura-pura cuek aja.... Karena jadi orang yang terlalu peduli itu agak kurang menyenangkan. Jadi yah gitu, deh.

#KampusFIksi 10 Days Writing Challenge;Tulislah Tulisan yang Membuatmu Merasa Kuat

Tulisan yang mebuat kuat?

Akhir-akhir ini, aku memang lagi capek-capeknya dan bener-bener ngerasa jenuh. Jenuh banget. Aku setiap hari baru bebas tiduran di kasur itu jam enam sore. Tambahan pelajaran sampa jam empat, terus dilanjut les. Setiap hari. Siapa yang nggak jenuh kalau setiap hati kayak gini? Sementara ini masih berlaku terus sampai empat bulan ke depan. Oh, atau mungkin lima bulan lagi karena aku mengejar SBMPTN.

Ditambah lagi, Ujian Nasional yang kejelasannya itu baru kemarin-kemarin. Iya, kisi-kisi resminya baru keluar beberapa minggu yang lalu. Sementara waktu pelaksanaannya itu bulan April.

USBN juga masih belum ada kejelasan mau essai atau pilihan ganda. Ditambah lagi snmptn yang cuma lima puluh persen.

Sebenarnya gara-gara situasi ini aku jadi pingin mundur.



Maka dari itu, aku akan menulis ini supaya aku bisa lebih kuat lagi. TERIMAKASIH BANGET LOH BUAT YANG NGASIH TEMA BTW.

“Perjuanganmu belum seberapa, Cha. Masih banyak orang di luar sana yang lebih menderita dari kamu. Ada yang harus berjuang berkali-kali lipat lebih banyak dari kamu.”

“Kalau kamu capek, atau jenuh, napas dulu. Nangis kalau perlu. Nggak usah ditahan-tahan. Karena perjuanganmu masih panjang.”



“Jangan takut gagal. Jangan kalah sebelum berperang. Kan nggak lucu kalau menyerah duluan sebelum berperang.”

“Kamu harus menetapkan pilihanmu. Jangan minder sama yang lain. Kamu tahu kan, pilihanmu itu udah mantep dari satu tahun yang lalu. Jangan cuma gara-gara nilai, kamu mundur. POKOKNYA 
KAMU NGGAK BOLEH MUNDUR!!!”

“Kedua orang tuamu sudah mendukung loh, masa iya kamu mundur kan nggak lucu?”

“JANGAN MUNDUR YAA!”

Sudah. Cukup sampai di sini. Kalau dilanjutin nanti makin alay.

Oh iya, terima kasih untuk salah satu idolaku. Yang jam tiga malam masih sibuk mengarang lagu. Gara-gara kamu, aku jadi semangat buat bangun jam segitu :”))))